Macklemore, Ed Sheeran, dan Batas Netralitas

  • 20 Sep 2026 22:33 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Perdebatan tentang apakah musisi perlu bersuara terhadap isu politik kembali muncul setelah Macklemore dikeluarkan dari rangkaian tur Ed Sheeran di Amerika Serikat. Masalahnya bermula dari penampilan Macklemore di MetLife Stadium pada 4 dan 5 September 2026. Ia menyampaikan dukungan kepada Palestina dan memainkan lagu Hind’s Hall yang memang berkaitan dengan isu Gaza. Dikutip dari Reuters, sejumlah pemilik venue kemudian menolak menggelar pertunjukan jika Macklemore tetap menjadi penampil pendukung. Promotor Messina Touring Group akhirnya mengonfirmasi bahwa Macklemore tidak lagi tampil dalam delapan pertunjukan tersisa di tur tersebut. Macklemore kemudian mempertanyakan mengapa dukungannya terhadap Palestina menjadi persoalan sekarang, sementara ia sudah menyuarakan isu tersebut selama beberapa tahun.

Posisi Ed Sheeran kemudian menjadi bagian lain dari kontroversi. Melalui unggahan Instagram pada 15 September, Sheeran mengatakan bahwa keputusan mengeluarkan Macklemore berasal dari promotor dan pemilik venue, bukan dirinya. Sheeran juga mengatakan bahwa ia telah berusaha mencari solusi agar pertunjukan tetap berjalan. Dalam pernyataannya, ia menyebut penderitaan warga Israel dan Palestina sebagai tragedi kemanusiaan dan mengatakan bahwa dirinya memilih menggunakan panggung sebagai ruang yang menurutnya dapat mempertemukan orang dari berbagai latar belakang. Dikutip dari The Guardian, Sheeran juga menegaskan bahwa keputusan untuk tidak berbicara secara terbuka mengenai pandangan pribadinya tidak berarti ia tidak memiliki kepedulian terhadap isu tersebut. Pernyataan ini kemudian memunculkan pertanyaan yang lebih luas. Sampai sejauh mana seorang musisi dapat memilih bersikap netral ketika panggungnya sendiri menjadi tempat terjadinya perdebatan politik?

Dampaknya tidak berhenti pada Macklemore. Setelah keputusan tersebut diumumkan, sejumlah musisi yang terlibat dalam tur juga menarik diri. Finneas, Aaron Rowe, Beoga, dan Lukas Graham mengumumkan pengunduran diri melalui akun media sosial masing-masing. Dikutip dari Al Jazeera, alasan yang mereka sampaikan berkaitan dengan kebebasan seniman untuk berbicara mengenai penderitaan dan persoalan politik. Massive Attack kemudian ikut merespons melalui media sosial dengan mengkritik gagasan bahwa hiburan harus ditempatkan di atas isu kemanusiaan. Mereka menyatakan bahwa seniman seharusnya tidak menerima pembungkaman terhadap seniman lain. Pernyataan tersebut kemudian memperluas perdebatan dari sekadar konflik internal sebuah tur menjadi diskusi mengenai kebebasan berekspresi, posisi seniman, kepentingan bisnis, serta hubungan antara industri hiburan dan isu kemanusiaan.

Kasus ini juga menunjukkan bahwa menjadi apolitis tidak selalu membuat seorang figur publik terbebas dari kontroversi. Ketika seorang musisi memiliki jutaan pendengar dan tampil di panggung dengan jangkauan global, pilihan untuk berbicara maupun tidak berbicara dapat sama-sama mendapat respons publik. Di sisi lain, keputusan venue, promotor, dan pemilik bisnis juga memiliki konsekuensi terhadap siapa yang mendapat ruang untuk tampil. Perdebatan Macklemore dan Sheeran akhirnya tidak memiliki satu jawaban sederhana. Yang terlihat jelas adalah benturan beberapa kepentingan sekaligus, kebebasan berekspresi seorang seniman, hak penyelenggara menentukan isi pertunjukan, kepentingan bisnis tur, serta ekspektasi publik terhadap figur dengan pengaruh besar. Dikutip dari Associated Press, seluruh penampil pendukung akhirnya menarik diri dari tur Amerika Serikat Sheeran setelah keluarnya Macklemore.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....