GAUNG Gumaung, Jogja Jadi Ruang Bunyi

  • 13 Sep 2026 21:17 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Beberapa minggu lalu, Yogyakarta ramai dengan pekan toko buku. Sekarang, kotanya kembali berubah wajah lewat GAUNG Gumaung 2026, sebuah pekan musik elektronik dan eksperimental yang berlangsung 7 sampai 13 September. Selama tujuh hari, lebih dari 40 penampil dari Yogyakarta, Jakarta, Solo, Pacitan, Purworejo, Purwokerto, Melbourne, hingga Sydney tersebar di sembilan lokasi. Yang menarik, GAUNG tidak dibangun sebagai festival dengan satu panggung utama. Dikutip dari situs resmi GAUNG, Gumaung bekerja sebagai jaringan yang menghubungkan berbagai kolektif, proyek musik, dan inisiatif independen melalui konser, sesi dengar, pameran, lokakarya, pasar rilisan, sampai proyek kolaborasi. Tahun ini, rangkaian tersebut melibatkan 18 kolektif dan penyelenggara acara. Jadi, kalau kamu datang ke GAUNG, yang kamu datangi sebenarnya bukan satu venue, tetapi sebuah ekosistem yang menyebar di seluruh kota.

Cerita GAUNG sendiri sudah dimulai sejak 2024. Proyek ini digagas oleh Ari Wulu, Andreas Siagian atau Square Solid, dan Wok The Rock sebagai produser sekaligus kurator. Pada 2025, Leilani Hermiasih dan Uma Gumma kemudian bergabung sebagai programmer. Sepanjang enam bulan terakhir, GAUNG menjalankan sejumlah program seperti Gaung Ignition, Gaung Rumakit, Gaung RTFM, Salon GAUNG, dan Gaung Sintesa sebelum semuanya bertemu di Gumaung. Dikutip dari Mixmag Asia, rangkaian 2026 tersebut juga mencakup program diskusi publik dan workshop produksi serta audio sebelum masuk ke pekan festival. Format ini memperlihatkan satu hal yang cukup penting. GAUNG tidak hanya mengejar keramaian saat festival berlangsung. Mereka membangun ruang pertemuan dan pertukaran pengetahuan terlebih dahulu, lalu menjadikannya sebagai bagian dari ekosistem musik elektronik yang terus bergerak.

Yang membuat edisi tahun ini semakin beragam adalah cara musik ditempatkan di ruang-ruang yang tidak selalu identik dengan festival. Ada Sedulur Papat Lima Pancer bersama Jumat Gombrong yang mempertemukan musisi hiphop di Titik Nol Kilometer. Ada Tuesday Louder yang membawa musik ke kawasan kampung Wijilan. Ada Noise in the Bus bersama Jogja Noise Bombing yang mengubah bus keliling kota menjadi ruang pertunjukan. Ada pula Gaung Gong bersama Prontaxan yang merayakan funkot dan para pelaku yang membentuk genrenya selama dua dekade terakhir. Kombo Lab dan Perempuan Komponis menghadirkan sesi improvisasi dengan ansambel perempuan, sementara Art Music Today membawa pertemuan musik klasik dan elektronik. Dikutip dari jadwal resmi GAUNG, sebagian besar program ini dapat diakses gratis. Noise in the Bus menjadi salah satu pengecualian dengan tiket Rp15.000 secara tunai.

Dan mungkin bagian paling menarik justru datang ketika musik keluar dari ruang pertunjukan. GAUNG Gumaung ditutup lewat Klub Menepi #9 pada 12 sampai 13 September di kawasan Merapi. Acara ini mempertemukan musik dansa elektronik dengan kegiatan pemulihan lingkungan di kawasan hutan bambu yang sebelumnya merupakan area tambang pasir. Dikutip dari keterangan Klub Menepi yang dimuat Impessa, pengunjung diajak mengikuti restorasi lahan bersama warga, trekking, eksplorasi bekas terowongan tambang, workshop, sampai bermalam di ruang terbuka. Di sini musik tidak ditempatkan sebagai hiburan yang berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari pertemuan antara komunitas, lanskap, pengetahuan lokal, dan praktik ekologis. Itu yang membuat GAUNG menarik untuk diperhatikan. Festival ini tidak berusaha menyeragamkan musik elektronik ke dalam satu gaya. Mereka justru membiarkan banyak suara, komunitas, ruang, dan gagasan bertemu dalam satu pekan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....