Tuduhan Kekerasan Seksual terhadap Yves Tumor
- 07 Sep 2026 01:25 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Nama Yves Tumor, atau Sean Lee Bowie yang juga dikenal sebagai Shanti, tengah menjadi sorotan setelah sejumlah perempuan dan musisi mengungkap dugaan pelecehan seksual serta perilaku abusif yang mereka klaim pernah dialami. Perkara ini mencuat pada 19 Agustus 2026 setelah sebuah unggahan anonim di subreddit r/yvestumor disebarkan kembali ke X oleh akun @1likeaverage. Unggahan tersebut menampilkan foto luka pada leher seorang perempuan dan menuduhkan adanya tindakan meraba secara paksa, gigitan, penahanan secara fisik, hingga kekerasan lainnya. Dalam unggahan itu, pihak yang mengaku mengenal Yves Tumor selama bertahun-tahun juga menyebut kasus tersebut telah dilaporkan kepada polisi. The FADER kemudian menelusuri kemunculan tuduhan itu dan mengonfirmasi bahwa unggahan tersebut menjadi pemicu munculnya kesaksian lain di ruang publik.
Setelah cerita pertama menyebar, tuduhan serupa mulai muncul dari orang-orang yang berada di lingkungan musik Yves Tumor. DJ dan musisi Angel Money menulis di X pada 19 Agustus bahwa dirinya pernah digerayangi Yves Tumor dalam acara perilisan album SISTER milik Frost Children. Angel juga mengunggah rekaman yang menurutnya memperlihatkan kejadian tersebut, dan The FADER melaporkan bahwa video itu tampak mendukung kronologi yang ia ceritakan. Dua perempuan lain kemudian mengatakan bahwa mereka juga mengalami perilaku yang membuat tidak nyaman pada acara yang sama. Beberapa hari kemudian, musisi Kidä ikut angkat bicara. Kidä mengatakan dirinya pernah bekerja dan tur bersama Yves Tumor serta menjadi vokalis yang tidak mendapatkan kredit pada lagu Lovely Sewer. Kepada The FADER, ia menyebut pengalaman profesional tersebut sebagai salah satu yang paling tidak menghormati dalam kariernya, termasuk tekanan seksual yang berulang dan persoalan kredit vokal.
Tuduhan tersebut kemudian berkembang menjadi pembicaraan yang lebih luas tentang pola perilaku dan relasi kuasa di lingkungan musik. Seniman multidisipliner Juliana Huxtable juga menulis di X bahwa apa yang sedang dibicarakan publik bukan sesuatu yang sama sekali asing baginya, berdasarkan pengalamannya ketika pernah tur bersama Yves Tumor pada 2017. Namun, seluruh tuduhan ini tetap merupakan klaim dari para individu yang membuat kesaksian, dan belum dapat diperlakukan sebagai fakta yang telah diputuskan secara hukum. Yves Tumor sendiri membantah tuduhan tersebut. Dalam Instagram Story yang kemudian dihapus, ia menyebut semua tuduhan itu tidak benar dan mengatakan akan mengambil langkah hukum. The FADER dan The Quietus juga melaporkan bahwa ia kembali menyatakan memiliki saksi yang mendukung versinya. Sampai laporan-laporan tersebut diterbitkan, belum ada putusan pengadilan yang menetapkan kebenaran tuduhan tersebut.
Kasus ini akhirnya membawa percakapan pada persoalan yang lebih besar. Ketika seseorang bekerja di industri yang sama dengan orang yang mereka tuduhkan, berbicara ke publik dapat memiliki konsekuensi sosial dan profesional yang besar. Kesaksian para penyintas sering muncul setelah ada orang pertama yang berani membuka cerita, seperti yang terlihat dalam rangkaian unggahan terkait Yves Tumor pada Agustus 2026. Namun, meningkatnya keberanian untuk berbicara tidak otomatis berarti setiap tuduhan telah terbukti. Di titik ini, publik perlu mampu membedakan antara kesaksian personal, bukti yang tersedia, respons pihak yang dituduh, dan proses hukum yang mungkin berjalan. Dari perkembangan yang dirangkum The FADER, NME, Exclaim! dan The Quietus, perkara Yves Tumor menunjukkan betapa cepat dugaan kekerasan dapat berkembang dari forum penggemar menjadi isu besar di industri musik, sekaligus menunjukkan pentingnya proses verifikasi dan ruang aman bagi orang yang memilih untuk bersuara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....