Yung Lean Buka Sisi Seni yang Tersembunyi
- 29 Agt 2026 20:24 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Selama ini Jonatan Leandoer Håstad lebih dikenal dunia lewat nama Yung Lean, musisi Swedia yang menjadi salah satu figur penting dalam perkembangan cloud rap dan kultur Sad Boys. Namun, di balik musiknya, Håstad ternyata sudah lama membangun dunia visualnya sendiri. Selama sekitar satu dekade, ia menggambar, melukis, membuat patung kayu, kolase, hingga berbagai bentuk karya eksperimental tanpa banyak memperlihatkannya kepada publik. Kini, semua proses itu untuk pertama kalinya dikumpulkan dalam Collected Works 2016–2026, pameran seni visual pertamanya. Dikutip dari situs resmi pameran yang dikelola World Affairs, sebagian besar karya yang ditampilkan bahkan belum pernah dipamerkan sebelumnya. Pameran ini akan berlangsung pada 25 September hingga 11 Oktober 2026 di Norra Bangården, Torsgatan 22, Stockholm, dengan tiket masuk gratis.
Menariknya, Håstad tidak membangun pameran ini dengan pendekatan galeri yang konvensional. Alih-alih sekadar menggantung lukisan di dinding, ruang pamer akan dibentuk menjadi beberapa lingkungan yang terasa lebih imersif, termasuk salon, ruang televisi, dan ruang pemutaran. Karya yang dibawa pun bergerak dari lukisan, karya di atas kertas, kolase, patung, diorama, hingga instalasi yang dibuat khusus untuk lokasi. Dikutip dari Artsy, Håstad mengorganisasi pameran ini sendiri, termasuk menentukan pilihan karya, desain ruang, dan instalasinya. Pendekatan tersebut terasa masuk akal jika melihat bagaimana ia menjelaskan proses kreatifnya. Ia mengaku bekerja secara otodidak dan membiarkan tangan membawanya ke arah yang tidak selalu direncanakan. Jadi, karya-karya tersebut tidak dibuat untuk memenuhi definisi tertentu tentang seni. Ia membiarkan prosesnya berkembang secara spontan.
Ada satu bagian lain yang membuat Collected Works 2016–2026 semakin menarik. Håstad juga akan memperkenalkan film pendek naratif pertamanya. Ia bertindak sebagai produser eksekutif sekaligus pemeran dalam film yang mengikuti perjalanan sepasang kekasih melewati jalan-jalan kecil di pedesaan Swedia. Film ini melengkapi cara Håstad membangun dunianya melalui berbagai medium. Dikutip dari materi resmi World Affairs dan pemberitaan Artsy, karya visualnya memiliki bahasa sendiri dengan figur serta motif yang muncul berulang di berbagai karya yang dibuat dalam rentang waktu berbeda. Håstad sendiri menggambarkan proses tersebut mirip dengan cara ia membuat musik, melalui stream of consciousness. Bagi dirinya, warna, gambar, objek, dan musik muncul dari dorongan kreatif yang sama.
Pada akhirnya, Collected Works 2016–2026 memperlihatkan sisi Yung Lean yang selama ini berada di balik musik. Ada proses kreatif yang sudah berjalan sejak masa kecil, lalu berkembang secara privat selama bertahun-tahun sebelum akhirnya dibuka untuk publik. Dikutip dari pernyataan Håstad dalam materi pameran, ia mengatakan bahwa sejak kecil dirinya sudah memimpikan warna dan membuat patung kayu, gambar, serta lukisan. Ia juga menyebut lukisannya bisa berarti tidak ada apa-apanya sekaligus berarti segalanya. Pameran ini menjadi semacam arsip satu dekade dari proses tersebut. Setelah pameran selesai, sebagian karya, terutama sejumlah patung, juga akan ditawarkan melalui lelang internasional bersama Bukowskis. Dengan begitu, September nanti bukan sekadar momen ketika Yung Lean menunjukkan bahwa ia bisa membuat seni. Ini menjadi kesempatan pertama publik melihat seberapa jauh dunia visual yang selama ini ia bangun secara diam-diam.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....