Dekmantel Bawa Amsterdam ke Bali
- 29 Agt 2026 20:23 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Ada satu alasan kenapa kedatangan Dekmantel ke Bali terasa lebih dari sekadar agenda musik elektronik. Pada 26 September 2026, institusi musik elektronik asal Amsterdam ini akan mengambil alih Desa Potato Head, Seminyak, dalam debutnya di Asia Tenggara. Kolaborasi ini mempertemukan dua nama yang punya perhatian kuat terhadap musik, budaya, komunitas, dan kreativitas. Dikutip dari laman resmi Potato Head, acara ini dirancang berlangsung dari siang hingga malam, dengan rangkaian musik dan program budaya yang menghubungkan talenta dari Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan Indonesia. Dekmantel sendiri memiliki sejarah panjang sebelum dikenal sebagai festival besar. Dalam materi resmi Dekmantel dan penjelasan Triennale Milano mengenai Dekmantel Soundsystem, akar gerakannya tumbuh dari komunitas musik Amsterdam, pesta klub yang intim, aktivitas menggali rekaman, serta pertemanan antarmusisi. Festival Dekmantel kemudian hadir untuk pertama kalinya pada 2013 di Amsterdamse Bos.
Menariknya, perjalanan menuju Bali juga lahir dari hubungan yang berkembang secara langsung antara kedua pihak. Casper Tielrooij, salah satu pendiri Dekmantel, dan Olf van Elden atau Interstellar Funk disebut telah menghabiskan waktu di Bali. Di sisi lain, tim Potato Head juga beberapa kali berkunjung ke Amsterdam dan terhubung dengan ekosistem Dekmantel. Jadi, kolaborasi ini terasa seperti kelanjutan dari pertukaran budaya yang sudah berlangsung, bukan sekadar kerja sama satu kali. Dikutip dari Mixmag Asia, Casper menyebut hubungan personal antara kedua tim telah terbangun melalui pertukaran artis, kunjungan, dan pengalaman di ruang musik masing-masing. Dari sinilah lahir Dekmantel x Potato Head Bali, dengan pendekatan yang mencoba mempertemukan karakter Amsterdam dan Bali melalui musik serta komunitas.
Di sisi musik, lineup-nya dibuat cukup lebar untuk membawa karakter Dekmantel ke Bali tanpa menghilangkan ruang bagi musisi Indonesia. Avalon Emerson dari Amerika Serikat akan menjadi penutup malam sekaligus menjalani penampilan pertamanya di Asia Tenggara. Ada pula Dekmantel Soundsystem yang mempertemukan kembali Casper Tielrooij dan Olf van Elden dalam satu set. Dari Jepang, Soichi Terada akan hadir dalam format live. Namanya juga punya hubungan menarik dengan budaya pop karena karya-karyanya pernah digunakan dalam seri gim Ape Escape. Sementara itu, Fafi Abdel Nour membawa akar Amsterdam, Ogazón dan Kaazi mewakili spektrum Berlin dan internasional, sedangkan Indonesia diwakili Danny Satria, Dita, Kiwed, Sattle, Archie, dan Bagvs. Dikutip dari laman resmi Potato Head, musik yang ditawarkan bergerak dari house, techno, dan disco hingga ambient, electronica, eksperimental, serta sound yang lebih leftfield.
Namun, pengalaman di Bali ini tidak berhenti ketika musik mulai dimainkan. Sejak siang, pengunjung akan mendapatkan listening session, sesi tanya jawab langsung, dan Desa Dialogue yang membuka ruang untuk membicarakan musik, budaya, kreativitas, serta berbagai gagasan. Setelah itu, program bergerak menuju pertunjukan musik hingga malam di kawasan Desa Potato Head. Dikutip dari situs resmi Potato Head, konsep tersebut memang dirancang sebagai pengalaman yang berlangsung sepanjang hari, sehingga dancefloor menjadi salah satu bagian dari keseluruhan program. Bagi skena musik elektronik Indonesia, kedatangan Dekmantel juga menarik karena mempertemukan kurasi internasional dengan nama-nama lokal dalam satu ruang. Pada 26 September nanti, Bali tidak hanya menjadi lokasi pertunjukan. Bali menjadi titik pertemuan antara komunitas musik Amsterdam dan ekosistem kreatif Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....