Soroti Kesenjangan Lagos, Film 'I Live in V.I.' Raih Penghargaan

  • 16 Agt 2026 19:27 WIB
  •  Manado
Poin Utama
  • Film 'I Live in V.I.' karya sutradara Ugochukwu Azuya mengangkat satire sosial mengenai kesenjangan kelas, alienasi perkotaan, dan tekanan kapitalisme di kota Lagos, Nigeria.
  • Proyek film dalam tahap pengembangan ini sukses meraih penghargaan Tabakalera-San Sebastian Film Festival Residency Award pada ajang Locarno Open Doors 2026.
  • Meski berlatar dinamika riil masyarakat Lagos, tema urbanisasi dan perjuangan hidup anak muda yang diusung dinilai sangat relevan bagi penonton global.

RRI.co.id, Manado - Dunia perfilman Afrika kembali mencuri perhatian panggung internasional. Proyek film terbaru karya sutradara asal Nigeria, Ugochukwu Azuya, yang berjudul 'I Live in V.I.', menjadi salah satu karya terdepan yang dipresentasikan dalam program Open Doors di Locarno Film Festival 2026.

Melansir laporan wartawan Georg Szalai di majalah The Hollywood Reporter, Sabtu (15/8/2026), proyek film garapan Azuya bersama produser Olubunmi Ogunsola dari rumah produksi Ensemble ini berhasil menyabet penghargaan prestisius Tabakalera-San Sebastian Film Festival Residency Award.

Film 'I Live in V.I.' mengusung genre satire sosial yang menyoroti persoalan gentrifikasi, isolasi perkotaan, serta retaknya impian masyarakat kelas pekerja. Mengambil latar kota Lagos—salah satu megapolitan terpadat di Afrika—cerita ini berfokus pada dinamika kehidupan Florence, seorang perempuan muda asal daerah yang berjuang bertahan hidup di tengah kerasnya arus kapitalisme kota besar.

"Florence adalah representasi dari diri saya dan tak terhitung banyaknya anak muda yang mencoba bertahan hidup di Lagos. Lagos adalah kota fantasi tempat pamer kekayaan fantastis berdampingan langsung dengan kegagalan infrastruktur dan masyarakat yang tergeser," ungkap Azuya dalam catatannya, dikutip dari The Hollywood Reporter.

Azuya menambahkan bahwa meski film ini diwarnai oleh humor khas Nigeria yang sarkastik dan eksentrik, pesan yang dibawanya bersifat universal. Menurutnya, pengalaman merantau demi memperbaiki nasib di kota besar—baik di Lagos, Tokyo, São Paulo, maupun New York—adalah realitas yang dipahami oleh masyarakat di seluruh belahan dunia.

Pasca-kemenangan di ajang Locarno Open Doors 2026, tim produksi Ensemble kini berfokus mengoptimalkan siklus pengembangan film melalui program residensi di San Sebastian demi mematangkan kualitas cerita sebelum masuk ke tahap produksi penuh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....