Drukqs, Album yang Menolak Usang
- 08 Agt 2026 21:35 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Dua puluh lima tahun lalu, Richard D. James, yang lebih dikenal sebagai Aphex Twin, mengakhiri penantian panjang para penggemarnya lewat Drukqs. Album ganda berdurasi hampir 100 menit itu dirilis pada 2001 setelah jeda sekitar lima tahun sejak album studio sebelumnya. Berisi 30 lagu, Drukqs menjadi ruang eksplorasi yang mempertemukan jungle, drum and bass, ambient, elektroakustik, hingga komposisi piano yang sangat minimalis. Dikutip dari Warp Records dan arsip resmi Aphex Twin, album ini juga lahir dari kumpulan materi yang telah dikerjakan James selama bertahun tahun, sehingga setiap lagunya terasa seperti potongan ide dari periode kreatif yang berbeda. Alih alih mengejar satu konsep yang seragam, Drukqs justru memperlihatkan luasnya spektrum musikal yang dimiliki Aphex Twin.
Saat pertama kali dirilis, respons terhadap Drukqs ternyata jauh dari kata bulat. Dikutip dari Crack Magazine, sebagian kritikus dan pendengar merasa album ini tidak memberikan lompatan besar setelah masa vakum yang cukup lama. Rolling Stone bahkan memberikan nilai hanya satu dari lima bintang dan menganggap materi di dalamnya terlalu dekat dengan karya Aphex Twin sebelumnya. Namun, penilaian tersebut tidak sepenuhnya bertahan. Seiring waktu, semakin banyak kritikus melihat Drukqs sebagai album yang memang tidak berusaha mengikuti ekspektasi pasar. Richard D. James justru memilih menyusun karya yang penuh kontras, memadukan komposisi piano yang lembut dengan ritme elektronik yang kompleks dan sulit ditebak. Pendekatan itu membuat Drukqs perlahan mendapat tempat sebagai salah satu karya paling ambisius dalam katalog Aphex Twin.
Di antara tiga puluh lagu yang ada, Avril 14th menjadi komposisi yang paling dikenal lintas generasi. Lagu piano sederhana itu kemudian digunakan sebagai sampel dalam Blame Game karya Kanye West bersama John Legend, sekaligus menginspirasi banyak musisi lain. Sementara itu, lagu QKThr mengalami kehidupan kedua berkat media sosial. Potongan lagu tersebut viral di TikTok dan YouTube Shorts, memperkenalkan musik Aphex Twin kepada generasi yang mungkin belum pernah mendengar namanya sebelumnya. Menurut data YouTube Music yang sempat ramai dibahas komunitas penggemar musik elektronik, lonjakan penggunaan QKThr bahkan sempat membuat jumlah pendengar bulanan Aphex Twin melampaui Taylor Swift di platform tersebut untuk periode tertentu. Fenomena ini menunjukkan bahwa algoritma media sosial mampu menghidupkan kembali karya yang telah berusia puluhan tahun.
Kini, tepat 25 tahun setelah perilisannya, Drukqs kembali hadir melalui edisi reissue yang diumumkan Warp Records. Album ini akan tersedia dalam format vinyl empat piringan hitam, dua cakram padat, dan kaset. Warp Records juga menyiapkan edisi kolektor berupa chocolate box berisi empat vinyl lengkap dengan poster enam panel dan stencil logo AFX. Edisi ulang ini bukan sekadar menghadirkan ulang sebuah album lama, tetapi juga menjadi pengingat bahwa karya yang dulu dianggap mengecewakan oleh sebagian kritikus dapat berubah menjadi album yang terus diapresiasi lintas generasi. Drukqs menjadi bukti bahwa nilai sebuah karya musik tidak selalu ditentukan oleh respons saat pertama kali dirilis, melainkan oleh kemampuannya untuk tetap relevan dan terus ditemukan kembali oleh pendengar baru.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....