The Monophones Kembali Bersuara
- 28 Jul 2026 14:43 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Ada band yang kembali setelah dua atau tiga tahun. Ada juga yang memilih diam selama hampir dua dekade sebelum akhirnya membuka lembaran baru. Itulah yang dilakukan The Monophones. Band asal Yogyakarta yang sempat vakum sejak 2008 ini resmi merilis single terbaru berjudul Yang Hilang dan Kembali pada 10 Juli 2026. Judul lagu tersebut terasa mewakili perjalanan mereka sendiri. Hilang cukup lama dari industri musik, lalu kembali dengan semangat baru tanpa meninggalkan identitas yang telah mereka bangun sejak awal. Berdasarkan keterangan resmi yang dibagikan melalui kanal media sosial The Monophones, proyek ini menjadi penanda dimulainya kembali perjalanan band yang pertama kali dibentuk pada 2002 sebagai side project dua personel awal Bangkutaman, Bayu Prabowo dan Wahyu "Acum" Nugroho.
Nama The Monophones sebenarnya bukan nama asing bagi penikmat musik independen Indonesia pada pertengahan 2000-an. Lagu Rain of July pernah menjadi soundtrack film Catatan Akhir Sekolah dan juga masuk dalam album kompilasi Fast Forward pada 2006. Selain itu, perjalanan mereka turut tercatat dalam sejumlah rilisan kompilasi independen seperti Peachy Little Secrets. An International Indie Compilation dari Fruit Records pada 2006, serta Teman-teman Memainkan Lagu Naif yang dirilis Aksara Records pada 2008. Setelah itu aktivitas band berhenti karena para personelnya disibukkan dengan berbagai proyek dan aktivitas masing masing. Kini, melalui informasi yang disampaikan The Monophones dan materi promosi resmi mereka, Bayu Prabowo menghidupkan kembali band ini sebagai penulis lagu, arranger, sekaligus pemain double bass, bersama formasi baru yang diisi Adi Wijaya sebagai conductor dan pianis, Marcella Dee sebagai vokalis, serta didukung Andar Prabowo pada drum, Yoki Nur Hidayat pada flute, dan string quartet dari ISI Yogyakarta.
Yang membuat Yang Hilang dan Kembali terasa berbeda adalah pendekatan produksinya. Di saat banyak musisi mengandalkan instrumen digital dan proses rekaman modern, The Monophones justru memilih merekam seluruh aransemen menggunakan instrumen akustik tanpa sentuhan instrumen elektrik. Piano, double bass, flute, drum, violin, viola, hingga cello direkam secara langsung di Neverland Studio, Yogyakarta, sepanjang Februari sampai Maret 2025. Menurut penjelasan resmi dari band, keputusan tersebut diambil untuk mempertahankan karakter suara yang lebih hangat, alami, dan autentik. Pendekatan ini sekaligus memperlihatkan perhatian mereka terhadap detail musikal, bukan sekadar mengejar tren produksi yang sedang populer.
Meski tampil dengan wajah baru, The Monophones tetap mempertahankan warna musik yang telah menjadi ciri khas mereka. Psychedelic Rock berpadu dengan Jazz, Baroque Pop, serta nuansa musik Indonesia era 1970 hingga 1980-an membentuk karakter yang tetap terasa akrab bagi pendengar lama, namun juga relevan untuk dinikmati generasi baru. Kembalinya The Monophones menunjukkan bahwa waktu tidak selalu menghapus identitas sebuah band. Justru setelah jeda panjang, mereka hadir dengan pengalaman yang lebih matang dan konsep yang semakin jelas. Kini, Yang Hilang dan Kembali sudah dapat didengarkan di berbagai layanan streaming digital, menjadi penanda bahwa kisah The Monophones belum selesai dan masih memiliki bab baru untuk dituliskan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....