Dua Lipa dan Perpustakaan Terlarang
- 22 Jul 2026 17:32 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Dua Lipa kembali menunjukkan bahwa kecintaannya pada literasi bukan sekadar aktivitas sampingan di luar panggung musik. Setelah meluncurkan Service95 Book Club pada 2023 yang menghadirkan rekomendasi buku setiap bulan dan diskusi bersama para penulis melalui podcast Service95, kini ia memperkenalkan proyek baru bernama The Manifesto Library. Perpustakaan ini resmi dibuka pada 27 Juni di Livraria Lello, Porto, Portugal, sebagai bagian dari festival buku internasional BABELL. Menurut informasi yang dipublikasikan oleh Livraria Lello, koleksi tersebut akan menjadi instalasi permanen di toko buku bersejarah itu. Bagi Dua Lipa, membaca bukan sekadar hobi. Membaca adalah cara untuk mempertanyakan gagasan, memahami pengalaman hidup orang lain, dan membangun ruang diskusi yang lebih terbuka. Seperti yang ia sampaikan melalui Service95, "Sometimes the most subversive thing you can do is read a book and then talk about it." Kalimat itu menjadi landasan utama dari perpustakaan yang ia bangun.
The Manifesto Library menghadirkan 100 buku yang dikelompokkan ke dalam empat tema, yaitu Power, Control, Voice, dan Memory. Seluruh judul dipilih karena pernah mengalami pelarangan, pembatasan, atau penyensoran di berbagai tempat dan waktu. Dikutip dari penjelasan resmi Livraria Lello dan Service95, koleksi tersebut mencakup karya klasik seperti The Second Sex karya Simone de Beauvoir hingga buku kontemporer seperti One Day, Everyone Will Have Always Been Against This karya Omar El Akkad. Banyak dari buku itu mengangkat isu tentang hak perempuan, kebebasan berekspresi, diskriminasi ras, identitas seksual, perang, kolonialisme, hingga ketidakadilan sosial. Kehadiran buku-buku tersebut tidak dimaksudkan untuk merayakan kontroversi, melainkan mengajak pembaca memahami mengapa sebuah gagasan pernah dianggap mengancam, sekaligus membuka ruang dialog yang lebih sehat terhadap berbagai sudut pandang.
Gagasan Dua Lipa juga selaras dengan pandangan banyak organisasi internasional mengenai pentingnya akses terhadap buku. UNESCO berkali-kali menegaskan bahwa kebebasan berekspresi dan akses terhadap pengetahuan merupakan fondasi masyarakat demokratis dan inklusif. Sementara itu, American Library Association melalui Office for Intellectual Freedom secara rutin mendokumentasikan meningkatnya tantangan pelarangan buku dalam beberapa tahun terakhir, terutama terhadap karya yang membahas identitas, sejarah, dan keberagaman. Dalam konteks itu, The Manifesto Library bukan sekadar rak berisi buku-buku yang pernah disensor. Proyek ini menjadi pengingat bahwa membatasi akses terhadap bacaan dapat mempersempit kesempatan seseorang untuk memahami realitas yang berbeda dari pengalaman pribadinya. Membaca tidak selalu membuat seseorang langsung setuju dengan isi sebuah buku, tetapi membaca memberi kesempatan untuk memahami alasan di balik lahirnya sebuah pemikiran.
Inisiatif ini memperlihatkan sisi lain dari Dua Lipa sebagai figur publik yang menggunakan pengaruhnya untuk mendorong budaya membaca. Ia tidak hanya mengajak orang membeli atau mengoleksi buku, tetapi juga menghidupkan percakapan setelah halaman terakhir selesai dibaca. Melalui The Manifesto Library, Dua ingin menunjukkan bahwa empati lahir ketika seseorang bersedia mendengar pengalaman yang berbeda, termasuk melalui buku-buku yang pernah dianggap terlalu berani untuk diterbitkan atau dibaca. Di tengah derasnya arus informasi singkat di media sosial, kehadiran perpustakaan seperti ini menjadi pengingat bahwa membaca secara mendalam masih memiliki peran penting dalam melatih berpikir kritis, memperluas perspektif, dan membangun masyarakat yang lebih terbuka terhadap perbedaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....