Ethernet dan Lanskap Bunyi Depok
- 24 Jun 2026 18:06 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Depok kembali menunjukkan sisi kreatifnya yang sering luput dari sorotan. Di tengah berbagai stereotip yang melekat pada kota ini, dua musisi muda, Tekateky dan Fanatik Kinetik, justru menghadirkan ruang imajinasi baru melalui Ethernet, sebuah joint EP yang dirilis pada 2026. Proyek ini menjadi titik temu dua pendekatan musikal yang sebelumnya berkembang di jalurnya masing-masing. Dikutip dari keterangan yang dibagikan Tekateky dan Fanatik Kinetik melalui media sosial mereka, Ethernet lahir sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan ketertarikan keduanya terhadap tekstur ambient, elektronik, dan eksplorasi suara yang bersifat personal. Hasilnya bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan sebuah perjalanan yang mengajak pendengar masuk ke lanskap emosi yang bergerak perlahan, seperti menyusuri jalan yang terus berubah bentuk di sepanjang hidup.
Sebelum bertemu dalam Ethernet, keduanya lebih dulu memperkenalkan identitas masing-masing melalui karya yang berbeda. Fanatik Kinetik sempat mencuri perhatian lewat album ( ,, - w -)(TT—TT) yang menggabungkan electronic dream-pop dengan nuansa digital yang intim dan melankolis. Sementara itu, Tekateky memperkenalkan dirinya melalui lagu Like Above, So Below yang hadir dalam kompilasi Hadiah Awal Tahun bersama Hats Collective. Jika diperhatikan, keduanya memang memiliki kesamaan dalam cara membangun atmosfer. Mereka tidak terlalu berfokus pada struktur lagu yang konvensional, tetapi lebih tertarik menciptakan ruang dengar yang mampu memancing imajinasi. Dari sinilah Ethernet terasa seperti pertemuan yang alami, seolah dua semesta kecil yang akhirnya menemukan titik orbit yang sama.
Secara naratif, Ethernet berbicara tentang fase-fase kehidupan yang datang silih berganti. Menurut penjelasan Tekateky melalui materi promosi perilisan EP tersebut, setiap trek merepresentasikan pengalaman yang membentuk dirinya hingga saat ini. Menariknya, kisah yang diangkat tidak dikemas secara harfiah. Perasaan kehilangan, perubahan arah, proses tumbuh, hingga pencarian makna diterjemahkan menjadi lapisan bunyi yang memberi ruang bagi pendengar untuk menafsirkan sendiri pengalaman mereka. Pendekatan seperti ini cukup dekat dengan tradisi musik ambient yang, menurut pemikiran komponis Inggris Brian Eno, berfungsi sebagai musik yang dapat dinikmati secara aktif maupun menjadi bagian dari lingkungan yang mengelilingi pendengarnya. Dalam konteks Ethernet, gagasan tersebut terasa hidup karena setiap trek seakan menawarkan ruang refleksi yang berbeda.
Dari sisi produksi, Ethernet dibangun menggunakan kombinasi MIDI, synthesizer, dan gitar yang saling bertaut membentuk lima trek bernuansa psikedelik. Suara elektronik yang mengambang dipadukan dengan elemen akustik yang hangat sehingga menghasilkan keseimbangan antara teknologi dan sentuhan manusia. Sampul bergambar belalang sembah yang membungkus rilisan ini pun terasa selaras dengan karakter musiknya yang organik sekaligus misterius. Dikutip dari unggahan promosi kedua musisi, Ethernet memang dirancang sebagai pengalaman mendengarkan yang utuh, bukan sekadar kumpulan single yang berdiri sendiri. Di tengah semakin banyaknya rilisan yang mengejar kecepatan konsumsi digital, EP ini justru mengajak pendengar melambat sejenak dan menikmati setiap lapisan suara yang dibangun dengan sabar. Sebuah pengingat bahwa dari kota seperti Depok pun, karya eksperimental yang jujur dan imajinatif dapat tumbuh dengan sangat menarik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....