Sulfur Surfer dan Gelombang Transformasi

  • 13 Jun 2026 22:35 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Setelah menutup babak yang gelap dan penuh gejolak melalui Cold Visions pada 2024, Bladee kembali membuka pintu menuju dunia yang lebih simbolik lewat album terbarunya, Sulfur Surfer. Album yang dirilis pada 20 Mei melalui Trash Island ini diawali oleh single Blondie yang lebih dulu hadir sebagai petunjuk arah perjalanan barunya. Dikutip dari The FADER dan Pitchfork, Sulfur Surfer menjadi album penuh pertama Bladee sejak Cold Visions, sekaligus menandai kembalinya kolaborasi intens dengan rekan lamanya, Whitearmor, yang memproduksi keseluruhan album.

Jika Cold Visions terasa seperti catatan harian seseorang yang sedang berhadapan dengan dirinya sendiri, maka Sulfur Surfer terdengar seperti perjalanan setelah badai itu berlalu. Dalam wawancara dengan i-D yang juga dikutip berbagai publikasi internasional, Bladee menggambarkan tokoh utama album ini sebagai seseorang yang berada di antara keinginan untuk melepaskan segalanya dan kebutuhan untuk tetap berpegang pada sesuatu. Tema ego death, transformasi, godaan, kehilangan identitas, hingga pencarian makna menjadi benang merah yang menghubungkan ketiga belas lagunya. Menurut ulasan Pitchfork, album ini juga dipenuhi alegori, mistisisme, dan fantasi yang mengambil inspirasi dari berbagai sumber budaya populer seperti Lord of the Rings, Dragon Ball Z, hingga simbolisme spiritual yang kerap muncul dalam lirik-lirik Bladee beberapa tahun terakhir.

Secara musikal, Sulfur Surfer menghadirkan pendekatan yang lebih fokus dibanding pendahulunya. Dikutip dari ROMBO Magazine, keputusan untuk menyerahkan seluruh produksi kepada Whitearmor membuat album ini terdengar lebih kohesif dan emosional. Atmosfer elektronik yang melankolis, tekstur digital yang suram, serta vokal Bladee yang bergerak antara rap, nyanyian, dan monolog membuat album ini terasa seperti dunia tersendiri. Salah satu kejutan terbesar datang dari keterlibatan Current 93, proyek eksperimental yang dipimpin David Tibet. Kehadiran mereka menjadi kolaborasi yang tidak terduga dan memperluas spektrum musikal Bladee ke wilayah yang lebih esoterik. Bahkan dalam berbagai diskusi komunitas penggemar di Reddit, kolaborasi tersebut menjadi salah satu aspek yang paling banyak dibicarakan setelah album dirilis.

Yang menarik, Sulfur Surfer tidak menawarkan jawaban pasti atas pertanyaan yang diajukannya. Justru di situlah kekuatannya. Bladee mengajak pendengar berada di ruang abu-abu antara harapan dan kehancuran, antara fantasi dan kenyataan, antara melepaskan dan bertahan. Dikutip dari ulasan The Line of Best Fit, sejak awal kariernya Bladee dikenal sebagai musisi yang sulit diklasifikasikan karena terus bergerak melintasi batas rap, pop, ambient, dan musik elektronik. Sulfur Surfer melanjutkan tradisi tersebut dengan cara yang lebih reflektif dan filosofis. Hasilnya adalah album yang mungkin terasa membingungkan bagi sebagian orang, tetapi justru menawarkan pengalaman yang kaya bagi mereka yang menikmati musik sebagai ruang untuk mempertanyakan identitas, perubahan, dan hal-hal fana yang mengelilingi kehidupan sehari-hari.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....