Candramawa dan Seni Mendengar
- 07 Jun 2026 10:45 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Di era ketika album baru biasanya diperkenalkan lewat konser besar, kampanye media sosial, atau siaran langsung yang serba cepat, Danilla Riyadi justru mengambil jalur yang berlawanan. Menjelang perilisan album Candramawa, ia mengundang pendengar untuk hadir dalam Sebuah Pengantar Candramawa, sebuah sesi dengar eksklusif yang berlangsung di Warung Fotkop dan Third Eye Space Studio pada 17 Mei 2026. Berdasarkan informasi yang dibagikan melalui akun media sosial Danilla dan penyelenggara acara, pengalaman ini dirancang secara intim dengan hanya 160 kursi yang dibagi ke dalam delapan sesi. Tidak ada penampilan langsung. Tidak ada percakapan panjang. Hanya delapan lagu yang diperdengarkan secara utuh melalui headphone, seolah mengajak pendengar untuk benar-benar berhenti sejenak dan memberi ruang penuh pada musik.
Pengalaman mendengarkan tersebut juga dibangun dengan pendekatan multisensori yang jarang ditemui dalam peluncuran album. Peserta tidak hanya mendengar musik, tetapi juga ditemani visual video mapping bernuansa monotone, aroma khusus yang dirancang bersama Usual Parfums, serta selimut dari IKEA Indonesia yang dapat dibawa pulang. Setiap sesi berlangsung selama 30 menit, durasi yang cukup untuk menikmati keseluruhan album tanpa gangguan. Pemilihan Warung Fotkop pun terasa selaras dengan karakter musik Danilla yang selama ini dikenal tenang, reflektif, dan personal. Ruang yang kecil dan dekat dengan audiens membuat pengalaman mendengarkan terasa seperti percakapan batin yang tidak membutuhkan banyak kata. Pendekatan ini sekaligus menunjukkan bahwa peluncuran album tidak selalu harus mengandalkan keramaian untuk meninggalkan kesan yang mendalam.
Nama Candramawa sendiri menyimpan lapisan makna yang menjadi fondasi album ini. Dalam penjelasan yang dibagikan Danilla melalui media sosial pribadinya, kata tersebut berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu candra yang berarti bulan dan māva yang dapat dimaknai sebagai pancaran atau cahaya. Bagi Danilla, Candramawa menjadi representasi dari perjalanan menerima berbagai sisi dalam diri manusia. Ia menggambarkan adanya sisi yang murni dan sisi yang dibentuk oleh pengalaman hidup, yang terus berdampingan hingga mencapai titik lelah, gelisah, lalu berujung pada keberserahan. Bukan menyerah, melainkan legowo. Pemaknaan tersebut terasa konsisten dengan karya-karya Danilla sebelumnya yang kerap mengeksplorasi ruang emosional yang personal, namun kali ini disampaikan dengan pendekatan yang tampak lebih matang dan kontemplatif.
Album ini diproduseri oleh Danilla bersama Lafa Pratomo dan Tarrega, serta menghadirkan sejumlah musisi tamu seperti Bilal Indrajaya, hara, dan Sandrayati Fay. Proses rekamannya berlangsung di Bantul, Yogyakarta pada 2024, sebuah periode yang tampaknya menjadi ruang penting bagi lahirnya delapan lagu dalam album tersebut. Candramawa resmi dirilis secara digital pada 5 Juni 2026 melalui Laguland, kemudian disusul perilisan piringan hitam pada 10 Juni melalui Big Romantic Records di Jepang. Menariknya, sebelum album itu hadir di layanan streaming, Danilla lebih dulu mengajak sebagian kecil pendengarnya untuk mendengarkan dalam keadaan sunyi. Sebuah pilihan yang mengingatkan bahwa di tengah banjir informasi dan distraksi, mendengar dengan penuh perhatian mungkin telah menjadi pengalaman yang semakin langka sekaligus semakin berharga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....