Mixtape dan Kenangan 90-an

  • 25 Mei 2026 13:48 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Annapurna Interactive kembali merilis game yang terasa lebih seperti surat cinta untuk masa muda dibanding sekadar permainan video. Lewat Mixtape, game terbaru garapan Beethoven and Dinosaur, pemain diajak mengikuti perjalanan tiga remaja menjelang perpisahan setelah lulus SMA. Stacey Rockford, Van Slater, dan Cassandra Morino menghabiskan malam terakhir mereka bersama sambil memutar playlist lagu-lagu tahun 90-an yang membentuk hidup mereka. Dikutip dari presentasi resmi Annapurna Interactive Showcase 2026, Mixtape dibangun sebagai pengalaman sinematik tentang nostalgia, persahabatan, dan musik yang menjadi penanda fase hidup seseorang. Stacey sendiri diceritakan akan pindah ke New York untuk mengejar pekerjaan di industri musik, sementara dua sahabatnya harus menerima kenyataan bahwa hidup mereka akan mulai berjalan ke arah berbeda.

Yang membuat Mixtape cepat menarik perhatian bukan hanya ceritanya, tetapi cara game ini dimainkan. Gameplay-nya terasa seperti kumpulan video musik interaktif. Pemain bisa skating di jalanan malam, melompat di bebatuan, mengambil foto dengan kamera analog, hingga mengontrol lidah saat adegan ciuman antar karakter berlangsung. Ya, absurd, tetapi juga terasa sangat manusiawi dan awkward seperti masa remaja pada umumnya. Dikutip dari ulasan The Guardian, Mixtape disebut memiliki atmosfer hangat dengan gaya animasi stop-motion yang mengingatkan pada Spider-Man: Into the Spider-Verse. Bagian pembukanya bahkan dibandingkan dengan opening Metal Gear Solid karena menggabungkan footage dunia nyata dengan gameplay secara mulus, termasuk monolog seorang remaja yang menjelaskan betapa “ajaibnya” Compact Disc bagi generasinya.

Namun pusat utama dari Mixtape tetap ada pada musiknya. Playlist dalam game ini dipenuhi lagu-lagu berlisensi dari The Smashing Pumpkins, Portishead, Siouxsie and the Banshees, Joy Division, The Cure, hingga Silverchair. Musik di game ini bukan tempelan latar belakang, tetapi menjadi alat untuk mengingat memori dan membentuk identitas karakter. Dikutip dari wawancara kreator game di kanal resmi Annapurna Interactive, Beethoven and Dinosaur memang ingin membuat game yang terasa seperti membuka kembali kotak CD lama di kamar tidur. Perasaan ketika satu lagu tiba-tiba membawa kamu kembali ke masa tertentu dalam hidup menjadi fondasi utama pengalaman bermain Mixtape.

Tahun 2026 sendiri mulai dianggap banyak pemain sebagai era baru untuk game bertema musik dan slice of life. Selain Mixtape, ada juga game seperti Waxheads, Dead as Disco, Perfect Tides: Station to Station, hingga Dead Pets: A Punk Rock Slice of Life Sim yang sama-sama menggunakan musik sebagai inti cerita. Bahkan industri game lokal Indonesia sebelumnya juga sempat menarik perhatian lewat Afterlove EP dari Pikselnesia. Fenomena ini menunjukkan bahwa banyak developer mulai bergerak dari game penuh aksi menuju pengalaman yang lebih personal dan emosional. Mixtape akhirnya terasa relevan bukan karena gameplay-nya revolusioner, tetapi karena ia memahami satu hal sederhana. Banyak orang mungkin lupa detail hidupnya sendiri, tetapi mereka hampir selalu ingat lagu apa yang sedang diputar saat momen itu terjadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....