Suara Warga, Suara Perlawanan

  • 10 Mei 2026 16:16 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Musik, film, mural, dan ruang berkumpul kembali menjadi medium perlawanan sipil lewat konser Dari Warga untuk Andrie Yunus yang digelar di M Bloc Live House. Acara solidaritas ini lahir sebagai respons atas kasus penyiraman zat asam terhadap Andrie Yunus, aktivis dari KontraS yang selama ini aktif mengadvokasi isu hak asasi manusia dan krisis lingkungan.

Dikutip dari pernyataan resmi dan unggahan media sosial KontraS Official Website serta akun resmi @kontras_update, peristiwa tersebut terjadi pada Maret lalu dan memicu gelombang solidaritas dari berbagai komunitas seni, aktivis, hingga warga sipil. Menariknya, konser ini tidak dibangun sebagai seremoni belas kasih semata. Atmosfernya justru terasa seperti ruang bersama untuk mengingat bahwa budaya populer dan ekspresi artistik selalu punya hubungan erat dengan situasi sosial politik di sekitarnya.

Malam itu, warga tidak hanya datang untuk menonton pertunjukan musik. Mereka juga menyaksikan pemutaran film dokumenter Pesta Babi garapan Watchdoc, melihat pameran mural, hingga mengikuti pembacaan petisi dan konferensi pers perkembangan kasus

. Penampilan dari Efek Rumah Kaca, Berjalan Lebih Jauh, Down For Life, Usman and The Blackstones bersama Gugun Blues Shelter dan Yacko memperlihatkan bagaimana musik lintas genre dapat bertemu dalam satu isu yang sama. Bahkan ketika venue penuh, beberapa musisi tetap memainkan sesi unplugged di luar gedung agar warga yang tidak kebagian tempat tetap bisa ikut terlibat. Momen itu terasa penting karena memperlihatkan solidaritas sebagai sesuatu yang hidup dan kolektif, bukan sekadar slogan digital di media sosial.

Dalam konferensi pers yang berlangsung di acara tersebut, berbagai organisasi masyarakat sipil menyoroti situasi yang lebih besar dari sekadar satu kasus kekerasan. Dikutip dari catatan WALHI melalui laporan dan kampanye publik mereka, deforestasi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah mencapai sekitar 1,4 juta hektar sejak 2016. Organisasi ini juga mengaitkan kerusakan ekologis dengan banjir bandang besar di Sumatra pada akhir 2025 yang menyebabkan lebih dari seribu korban jiwa.

Di sisi lain, kekhawatiran mengenai menguatnya pendekatan militeristik dalam politik nasional juga menjadi perhatian banyak kelompok sipil. Kombinasi antara kerusakan lingkungan, tekanan ekonomi global, dan menyempitnya ruang kritik dianggap memperbesar risiko krisis sosial di masa depan. Dari sini terlihat bahwa konser solidaritas tersebut sebenarnya berbicara tentang persoalan yang jauh lebih luas, yaitu hak warga untuk hidup aman, menyampaikan kritik, dan mempertahankan ruang hidup mereka.

Situasi itu menjadi semakin mengkhawatirkan ketika pembela HAM sendiri justru menjadi sasaran intimidasi dan kekerasan. Dikutip dari laporan tahunan Amnesty International Indonesia melalui akun resmi dan publikasi organisasi mereka, sepanjang 2024 tercatat sedikitnya 124 kasus serangan terhadap 288 pembela HAM di Indonesia. Banyak kasus belum mendapatkan kejelasan hukum hingga sekarang.

Data tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terhadap kebebasan sipil bukan lagi isu abstrak, tetapi realitas yang dialami langsung oleh warga yang bersuara kritis. Karena itu, konser seperti Dari Warga untuk Andrie Yunus menjadi penting bukan hanya sebagai acara seni, tetapi juga sebagai pengingat bahwa budaya dapat menjadi alat advokasi yang kuat. Di tengah situasi yang semakin penuh tekanan, solidaritas publik justru muncul melalui lagu, film, mural, dan ruang berkumpul yang menjaga percakapan kritis tetap hidup.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....