Live At Aloft, Musik Lebih Dekat

  • 19 Apr 2026 05:02 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Beberapa bulan terakhir, Aloft Hotels menghadirkan seri Live At Aloft Amplified yang mengubah lounge hotel jadi ruang temu yang hidup. Bukan sekadar panggung, tapi ruang interaksi. Formatnya sederhana tapi efektif. Penonton dekat dengan musisi. Tanpa jarak berlebihan. Pendekatan ini sejalan dengan konsep brand mereka yang memang fokus pada pengalaman sosial dan musik, seperti dijelaskan dalam materi resmi Marriott International yang menempatkan musik sebagai bagian dari identitas Aloft.

Di tengah format yang lebih santai, pengalaman yang muncul justru lebih kuat. Kunto Aji menyebut suasananya lebih intim dan komunikatif. Pernyataan ini relevan jika dilihat dari tren global small venue performance yang kembali naik setelah pandemi. Studi dari International Music Summit menunjukkan audiens kini cenderung mencari pengalaman live yang personal, bukan sekadar spektakel besar. Hal yang sama dirasakan Rafi Sudirman. Ia melihat format ini sebagai jembatan antara hospitality dan musik. Artinya, hotel tidak lagi hanya jadi tempat menginap, tapi juga platform distribusi pengalaman budaya.

Nama-nama yang terlibat memperkuat posisi program ini. Adrian Khalif, Adikara, Bilal Indrajaya, Fajar Nurdiansyah, Nadhif Basalamah, hingga Didie Shazry ikut membentuk spektrum yang beragam. Ini bukan lineup acak. Kurasi seperti ini biasanya mempertimbangkan engagement digital dan relevansi audiens, seperti dijelaskan dalam insight platform Spotify for Artists yang menekankan pentingnya kedekatan komunitas dalam membangun loyalitas pendengar. Jadi, program ini tidak hanya event, tapi juga strategi audience building.

Serinya memang sudah selesai. Tapi datanya menunjukkan potensi lanjutan. Aktivitas serupa di jaringan Aloft Hotels global konsisten mengandalkan musik sebagai diferensiasi brand experience, seperti dijelaskan dalam kampanye Live At Aloft yang sudah berjalan di berbagai kota dunia. Antusiasme tinggi di Jakarta, Surabaya, dan Bali memberi sinyal kuat. Format intimate live session punya demand nyata. Pertanyaannya bukan apakah ini akan kembali, tapi seberapa besar skalanya nanti. Jika konsisten, model seperti ini bisa jadi blueprint baru kolaborasi industri musik dan hospitality di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....