Gen Z Bawa Definisi Baru Work-Life Balance Kerja

  • 28 Mar 2026 17:18 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Generasi Z tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital yang sangat pesat dan serba terhubung. Lingkungan ini membentuk perspektif baru mereka terhadap dunia kerja, termasuk cara memandang keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan atau work-life balance.

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang melihat work-life balance sebagai pemisahan jelas antara waktu kerja dan waktu pribadi, Gen Z cenderung memaknainya sebagai keseimbangan yang lebih fleksibel antara pekerjaan, istirahat, dan kehidupan sosial. Bagi mereka, bekerja bukan hanya soal gaji atau jabatan, tetapi juga tentang makna pekerjaan serta kendali atas waktu dan kehidupan mereka. Dalam memilih tempat kerja, Gen Z biasanya mempertimbangkan nilai dan budaya perusahaan. Mereka lebih tertarik pada lingkungan kerja yang memberi fleksibilitas, menghargai kesehatan mental, serta membuka ruang untuk berkembang. Tidak sedikit juga yang berani meninggalkan pekerjaan jika merasa lingkungan kerja tidak sehat secara emosional.

Dikutip dari majalahsenta.kemnaker.go.id, Fleksibilitas kerja seperti remote working atau hybrid working juga menjadi hal yang banyak diminati. Survei dari Deloitte menunjukkan sebagian besar Gen Z lebih memilih sistem kerja yang fleksibel karena dianggap dapat membantu menjaga keseimbangan hidup. Namun, fleksibilitas ini juga punya tantangan. Batas antara waktu kerja dan waktu pribadi sering kali menjadi kabur karena komunikasi kerja bisa terjadi kapan saja melalui pesan atau aplikasi digital. Hal ini dapat memicu kelelahan mental, tekanan untuk selalu responsif, hingga fenomena digital fatigue.

Di tengah kondisi tersebut, konsep digital well-being mulai mendapat perhatian. Banyak Gen Z kini lebih memprioritaskan kesehatan mental, kualitas hidup, dan makna pekerjaan dibanding sekadar mengejar posisi tinggi dalam karier. Karena itu, memahami cara Gen Z memandang work-life balance menjadi penting bagi dunia kerja dan pendidikan. Lingkungan kerja yang sehat, fleksibel, dan menghargai kesejahteraan mental akan menjadi kunci agar generasi ini dapat bekerja secara produktif tanpa mengorbankan kualitas hidup mereka.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....