Tapas dan Api Kebebasan Musik
- 18 Feb 2026 22:29 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado – Di tengah industri musik yang makin padat dengan skema monetisasi dan algoritma, Kareem Soenharjo memilih jalur berbeda. Debut albumnya bertajuk Tapas lahir bukan sebagai produk yang dikejar angka, tetapi sebagai ruang bakar bagi diri sendiri. Dalam tradisi Hindu, tapas merujuk pada praktik asketisme dan disiplin spiritual melalui panas atau pembakaran diri secara simbolik, seperti dijelaskan dalam Stanford Encyclopedia of Philosophy pada entri tentang Hinduism. Kareem memaknai konsep itu sebagai proses terbakar dan lahir kembali setiap hari. Ia mengubah pengalaman personal menjadi fondasi album berdurasi 19 menit dengan tujuh nomor. 5864, Special Wishes 1, Mirror Song, Nowhere To Be, Summertime In The Abyss, Tango, dan Tapas. Dua lagu menghadirkan additional piano dari Chika Olivia.
Selama satu tahun, Kareem menulis, mengaransemen, merekam, memproduksi, mixing, hingga mastering sendiri. Ia meramu folk yang minimal dengan eksplorasi bunyi elektronik. Hasilnya terasa intim dan mentah, tanpa polesan berlebih. Pendekatan do it yourself seperti ini selaras dengan tradisi musik independen yang sejak era home recording berkembang pesat karena teknologi digital, sebagaimana dibahas dalam buku How Music Works karya David Byrne yang menyoroti bagaimana medium produksi memengaruhi estetika karya. Tapas tidak terdengar seperti proyek yang ingin memuaskan pasar. Ia lebih seperti jurnal audio yang dikerjakan dengan disiplin dan kesadaran penuh.
Secara tematik, Tapas bergerak di antara realita dan harapan. Kareem berbicara terbuka soal citra tubuh, dismorfia, dan rasa asing terhadap tubuhnya sendiri. Dalam psikologi klinis, body dysmorphic disorder dijelaskan oleh American Psychiatric Association dalam DSM 5 sebagai kondisi yang membuat seseorang terobsesi pada kekurangan fisik yang sering kali tidak terlihat jelas oleh orang lain. Pengakuan Kareem memberi konteks emosional pada lagu lagu di album ini. Ia tidak memaksa pendengar untuk memahami sepenuhnya. Ia percaya setiap orang akan menemukan maknanya sendiri. Itu sikap yang jarang, terutama ketika banyak musisi merasa perlu menjelaskan segalanya agar mudah diterima.
Yang paling radikal justru sikap distribusinya. Bersama Bosan Records, Kareem membebaskan Tapas untuk diunduh, diperbanyak, dijadikan kaset, CD, piringan, bahkan dijual ulang oleh siapa pun. Prinsip ini mengingatkan pada gerakan budaya bebas yang dipopulerkan oleh Lawrence Lessig lewat Creative Commons, yang mendorong distribusi karya secara lebih terbuka agar akses publik meluas. Di era ketika streaming sering memberi royalti sangat kecil bagi musisi independen, seperti berulang kali dibahas dalam laporan ekonomi musik oleh IFPI, keputusan ini terasa politis sekaligus idealis. Tapas bisa kamu dengarkan dan unduh melalui kanal resmi Bosan Records dan YouTube Kareem Soenharjo. Pertanyaannya sekarang bukan soal apakah ini menguntungkan secara bisnis, tetapi apakah model seperti ini bisa membuka cara baru kamu memandang nilai sebuah karya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....