Tradisi Kuno yang Tetap Berkilau: Tulude di Nusa Utara

  • 14 Jan 2024 21:55 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Tak bisa dipungkiri, Indonesia adalah negeri yang kaya akan keberagaman budaya dan adat istiadat. Upacara adat di setiap daerah memikat perhatian dengan makna dan daya tariknya yang unik. Salah satu daerah yang memiliki keberagaman Tradisi dan Adat Istiadat adalah Kepulauan Nusa Utara yang meliputi Sangihe, Talaud, dan Sitaro yang memiliki Upacara adat yang di kenal dengan nama 'Tulude'.

Tulude, atau Suhude dalam bahasa Sangihe, memiliki makna mendalam sebagai tindakan penolakan terhadap tahun yang berlalu, serta kesiapan untuk menyambut tahun yang baru.

Upacara dimulai dengan tahapan penting. Dua minggu sebelumnya, seorang tetua adat melakukan penyelaman di lorong bawah laut Gunung Banua Wuhu, membawa nasi putih dan emas sebagai persembahan kepada Banua Wuhu. Setelah ritual penyelaman, perhelatan upacara Tulude dimulai dengan pembuatan kue Tamo di rumah seorang tetua adat, sehari sebelum acara utama. Upacara Tulude dilaksanakan pada malam hari, dengan persiapan yang dimulai sejak sore.

Kemudian, disusul oleh persiapan kelompok-kelompok, termasuk pasukan pengiring, penari dengan tarian khas seperti Gunde, salo, kakalumpang, empat wayer, serta kelompok nyanyian masamper. Proses ini melibatkan penetapan tokoh adat untuk pemotongan kue adat Tamo, pemimpin upacara Mayore Labo, dan kehadiran Tembonang u Banua beserta Wawu Boki. Selain itu, terdapat persiapan seperti undangan kepada seluruh masyarakat untuk hadir dengan membawa makanan untuk Saliwangu Banua (pesta rakyat makan bersama) . Upacara dimulai dengan Sasake Pato, di mana petinggi memimpin perahu meluncur dengan berani di lautan yang gelombangnya terombang-ambing. Mereka kemudian turun dari perahu dengan sorak sorai, diiringi bunyi tambur dan tagonggong. Puncaknya, kue Tamo terbuat dari dodol dengan hiasan unik dipersembahkan, diiringi tarian tetua adat dan ucapan syukur. Tamo kemudian dipotong setelah doa-doa kebaikan dibacakan dalam bahasa Sangihe

Sejak abad ke-16, Tulude telah menjadi warisan berharga yang terus dilestarikan hingga masa kini. Sebagai sebuah upacara adat yang tak terpisahkan dari identitas masyarakat Sangihe, Tulude diadakan tanpa terkecuali setiap tahunnya, tepatnya pada tanggal 31 Januari. Tanggal yang bersejarah ini juga menandai berdirinya Kabupaten Sangihe.

Tulude bukan sekadar acara tahunan di Nusa Utara; lebih dari itu, ia memiliki peran penting sebagai lambang kebersamaan dan ketaatan spiritual bagi masyarakat Sangihe dan Talaud. Tradisi ini bukan hanya sebuah perayaan rutin, melainkan momentum berharga yang selalu dinantikan, mengingatkan masyarakat pada akar budaya dan warisan spiritual leluhur mereka.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....