“Sundeng: Jejak Agama Purba di Sangihe”

  • 18 Jul 2025 22:35 WIB
  •  Manado

KBRN,Manado: Kepercayaan kuno yang dikenal sebagai Sundeng, pernah menjadi agama masyarakat turun-temurun di Kepulauan Sangihe Talaud. Sebelum kedatangan agama-agama samawi (Kristen dan Islam) pada abad ke‑16, sebagian besar orang Sangihe masih mempertahankan tradisi religius berbasis animisme-dinamisme yang intens dan sakral.

Kompleksitas Sistem Kepercayaan

Sebagaimana dikutip dari laman barta1.com Sundeng dikenal sebagai kepercayaan mana, yakni sistem yang percaya pada kekuatan supranatural (mana) yang menyelaraskan manusia, roh, dan lingkungan─baik berupa arwah leluhur, dewa lautan, dewa daratan, maupun kekuatan alam besar seperti Gengghonaļangi (langit), Aditinggi (pegunungan), dan Mawendo (laut).

Ritual Pengorbanan Mepangkunang dan Musik Lide

Upacara inti dari Sundeng disebut Mepangkunang, dilakukan di tempat ibadah khusus (Penanaruang), seperti di Manganitu, Pananaru, dan Pulau Mahumu. Pada masa lalu, pengorbanan berupa anak gadis perawan dilakukan sebagai penghormatan kepada kekuatan penguasa alam. Seiring waktu digantikan dengan hewan, seperti babi putih.

Proses ritual selalu diiringi musik Lide (atau Oļi)—musik magis yang berasal dari ribuan tahun lalu. Tarian pendamping korban dipercaya menjadi jembatan roh menuju dunia lain.

Pemimpin Spiritual dan Komunitas

Setiap komunitas Sunda memiliki pemimpin religius disebut Ampuang, yang dibantu oleh Tatanging dan Bihing. Mereka bertugas mengatur ritual, penetapan korban, dan menala (menyembah dengan sesaji/mantera) sebagai bentuk komunikasi dengan roh penguasa alam.

Warisan yang Mendekati Kepunahan

Ketika misionaris Kristen dan Islam datang, kepercayaan ini mulai tergerus. Namun tercatat pada era 1927, masih ada komunitas kecil yang tetap menjalankan ritual Sundeng. Bunyi alat musik Nanaungan bahkan terdengar hingga era 1970‑an di Manganitu, menandakan tradisi tersebut masih hidup dalam bentuk minimal.

Mengapa Penting Dikenang?

Kepercayaan Sundeng menjadi warisan identitas dan spiritualitas Sangihe Talaud yang menyatu dengan alam dan budaya masyarakat. Sekalipun telah banyak tergantikan oleh agama-agama dunia, jejaknya masih ditemukan dalam syair sasambo, musik lokal, dan narasi adat yang diwariskan secara lisan.

(Stanly Kalumata)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....