"Dolanan Tradisional Manado Kembali Dihidupkan"
- 18 Jun 2025 08:07 WIB
- Manado
KBRN,Manado: Di tengah arus modernisasi dan dominasi gadget, dolanan tradisional khas Sulawesi Utara, khususnya Manado, justru kembali mendapat sorotan positif lewat dokumentasi budaya maupun inisiatif pelestarian. Berikut beberapa permainan anak jadul yang lekat di Manado:
5 Dolanan Legendaris Khas Manado
1. Cenge‑cenge (Engklek)
Dikutip dari mentarigroups.com Permainan lompat petak menggunakan satu kaki, disebut Cenge‑cenge di Sulut, setara dengan Engklek di Jawa. Pemain tak boleh menyentuh garis petak yang digambar di tanah.
2. Dodorobe (Tembak‑tembakan)
Biasanya dimainkan oleh anak laki-laki, menggunakan bambu pipih (“bulu tui”) sebagai senjata dan peluru dari kertas basah atau buah jambu air. Permainannya semacam simulasi perang kelompok—dalam blog seorang Manadonese disebutkan:
“Senjata… memakai bambu cina … pelurunya kertas yang sudah dibasahkan atau buah jambu air.”
3. Dakon (Congklak)
Permainan papan tradisional ini populer di Toraja–Manado. Papan dakon dengan lubang-lubang diisi biji-bijian mengajarkan strategi hati-hati dan perencanaan jangka panjang .
4. Tali koko (Gobak sodor)
Dolanan lompat-lompatan berbentuk tim, pemain berusaha menembus garis pertahanan lawan tanpa tersentuh—mirip gobak sodor Jawa.
5. Slepdur (Ular Naga)
Permainan barisan anak bergandeng tangan menyerupai ular naga, negeri berhenti saat lagu berhenti; jika salah, pemain yang jadi gerbang harus “tumbal.”
Upaya Pelestarian melalui Dokumentasi
BPNB Sulawesi Utara-Tengah-Gorontalo mendokumentasikan permainan ini lewat video, menyadari pentingnya peran dolanan sebagai media pembelajaran motorik dan sosial sejak kecil.
Manfaat Dolanan Tradisional
Motorik & Kognitif: Melatih keseimbangan (Cenge‑cenge), ketepatan (ketapel, dakon), serta kecerdasan strategi (gobak sodor) Sosial-Edukasi: Mengajarkan kerjasama, sportivitas, dan persahabatan—nilai-nilai penting dalam budaya Minahasa.
Tantangan & Aksi Lokal
Seiring gempuran gadget, dolanan tradisional mulai pudar. Namun, kelompok budaya dan sekolah dasar di Manado sekarang mengadakan acara “Festival Dolanan Anak” serta kegiatan edukasi di kelas, melibatkan para orang tua agar anak kembali bermain bersama siang hari di lapangan atau halaman sekolah.
Kesimpulan:
Dolanan tradisional Manado—seperti Cenge‑cenge, Dodorobe, Dakon, Gobak Sodor, dan Slepdur—mengandung nilai budaya, sosial, dan motorik yang tinggi.Inisiatif dokumentasi dan festival lokal menjadi langkah penting agar nilai-nilai tersebut tidak hilang.Perlu kolaborasi dari orang tua, sekolah, dan komunitas agar anak-anak dapat kembali merasakan keseruan dolanan klasik—tanpa gadget.
Pelestarian warisan budaya ini bukan hanya tentang nostalgia, tapi tentang membentuk karakter generasi yang sehat, kreatif, dan berjiwa sosial.
(Stanly Kalumata)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....