Edelweiss, Si Bunga Abadi: Keindahan Langka di Puncak Pegunungan Indonesia

  • 22 Apr 2025 14:09 WIB
  •  Manado

KBRN,Manado: Di tengah sejuknya udara pegunungan dan hamparan awan yang menari di ketinggian, bunga Edelweiss (Anaphalis javanica) mekar anggun, menjadi simbol keabadian dan kecantikan alam yang tak lekang oleh waktu. Dikenal juga sebagai “bunga abadi,” Edelweiss merupakan tanaman endemik pegunungan Indonesia yang tumbuh di atas ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut.

Dikutip dari beberapa sumber: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Keindahan Edelweiss tidak hanya memikat pendaki, tetapi juga menyimpan nilai ekologis yang tinggi. “Edelweiss memiliki kemampuan unik untuk bertahan hidup di kondisi ekstrem pegunungan. Tanaman ini juga penting sebagai indikator kesehatan ekosistem gunung,” ungkap Dr. Dwi Nugroho, peneliti botani dari BRIN.

Sayangnya, bunga Edelweiss kini terancam punah akibat ulah manusia. Banyak pendaki yang memetik bunga ini sebagai oleh-oleh, padahal tindakan tersebut melanggar hukum. Berdasarkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, memetik Edelweiss di alam liar bisa dikenakan sanksi pidana.

Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) mencatat penurunan populasi Edelweiss dalam dua dekade terakhir. Upaya konservasi terus dilakukan, termasuk melalui kampanye edukasi dan penanaman kembali Edelweiss di habitat aslinya.

“Kalau ingin menikmati keindahan Edelweiss, cukup difoto saja. Jangan dipetik. Biarkan generasi mendatang juga bisa melihatnya,” ujar Adi Nugraha, pegiat lingkungan dari Lindungi Hutan.

Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Edelweiss adalah salah satu tanaman pionir yang dapat tumbuh di tanah vulkanik muda, berperan penting dalam pemulihan ekosistem pasca-erupsi.

Fakta Tambahan:

· Bunga Edelweiss tumbuh di pegunungan seperti Rinjani, Semeru, Sindoro, dan Sumbing.

· Waktu mekar terbaik Edelweiss biasanya antara bulan Mei hingga Agustus.

· Dijuluki "bunga abadi" karena tetap tampak indah meski sudah dipetik selama bertahun-tahun—namun sayangnya tindakan ini sangat merugikan alam.

(Stanly Kalumata)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....