Mengapa Kuliner Jadul Semakin Menghilang
- 14 Jan 2026 22:15 WIB
- Manado
RRI.CO.ID,Manado-Kuliner tradisional semakin jarang ditemukan di kehidupan sehari-hari karena perubahan gaya hidup masyarakat moder
Sebagaimana dikutip dari laman lifestyle.sustainability-directory.com Urbanisasi menyebabkan masyarakat perkotaan memilih makanan yang lebih cepat saji, praktis, dan mudah diakses, seperti makanan cepat saji atau makanan siap makan dari restoran dan gerai modernpadahal banyak hidangan tradisional membutuhkan waktu dan keterampilan untuk disiapkan. Pergeseran ini membuat generasi muda kurang terpapar dan kurang tertarik pada makanan tradisional yang dianggap “ketinggalan zaman”.
Globalisasi dan Homogenisasi Selera Makan
Dilansir dari laman kumparan.com Globalisasi memperluas akses masyarakat terhadap berbagai pilihan kuliner dunia seperti pizza, sushi, atau burger, yang sering kali dipandang sebagai makanan modern dan menarik oleh generasi muda. Akses mudah terhadap bahan impor dan resep internasional berdampak pada homogenisasi selera sehingga hidangan lokal yang unik kalah populer dibanding makanan global.
Dominasi Makanan Industri dan Ekonomi Skala Besar
Makanan olahan dan produk dari jaringan restoran besar menjadi dominan di pasar karena biaya produksi yang lebih murah, pemasaran yang agresif, dan distribusi yang luas. Industri makanan global memasarkan produk mereka secara besar-besaran, sehingga kuliner tradisional yang kerap dibuat secara rumahan atau usaha kecil tidak mampu bersaing dari sisi harga dan konsistensi rasa.
Erosi Pengetahuan Kuliner Lokal
Pengetahuan tentang cara memasak, teknik tradisional, dan bahan lokal diturunkan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Namun saat anak muda lebih sering mengonsumsi makanan siap saji atau makanan luar negeri, transfer pengetahuan ini terputus. Akibatnya, resep-resep lama dan metode khas memasak kuliner tradisional hilang bersamaan dengan generasi yang meninggalkannya.
Pergeseran Ekonomi di Komunitas Lokal
Kegiatan pertanian kecil, pasar tradisional, dan usaha rumah tangga yang menjadi basis ketersediaan bahan-bahan lokal jadi semakin tertekan oleh pasar global dan produksi makanan massal. Banyak petani lokal mengganti tanaman tradisional mereka dengan komoditas yang lebih menguntungkan secara ekonomi, sehingga bahan utama untuk masakan tradisional menjadi langka atau mahal.
Perubahan Iklim dan Ketersediaan Bahan Lokal
Perubahan iklim berdampak pada produksi tanaman lokal yang menjadi bahan dasar sejumlah masakan tradisional. Ketika iklim yang tidak menentu membuat hasil panen menurun atau tanaman tertentu sulit tumbuh, resep yang bergantung pada bahan tersebut juga terancam punah atau terganti oleh alternatif yang lebih mudah didapat.
Hilangnya Identitas Budaya yang Terkait Kuliner
Kuliner tradisional sesungguhnya adalah bagian penting dari identitas budaya lokal. Namun ketika makanan tradisional semakin jarang dikonsumsi, nilai budaya yang terkait dengannya pun memudar. Pakar budaya mengatakan bahwa pelestarian makanan tradisional penting untuk mempertahankan kekayaan identitas lokal dan nasional, namun perubahan gaya hidup modern menghadirkan tantangan besar bagi kelangsungan tersebut.
Kesimpulan
Kuliner jadul semakin menghilang bukan akibat satu faktor tunggal, melainkan karena kombinasi globalisasi, perubahan gaya hidup, dominasi makanan industri, urbanisasi, hilangnya pengetahuan lokal, perubahan iklim, dan pergeseran ekonomi komunitas. Hilangnya kuliner tradisional bukan hanya soal resep yang pudar, tetapi juga ancaman terhadap warisan.
(Stanly Kalumata)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....