Menjadi “Badut” dalam Percintaan, Ini Kata Ahli

  • 14 Jan 2026 14:27 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Fenomena menjadi “badut” dalam percintaan kian marak terjadi, terutama di kalangan generasi muda. Istilah ini menggambarkan seseorang yang terus berusaha menghibur, memberi perhatian berlebih, dan berkorban demi pasangan, namun tidak memperoleh balasan perasaan maupun perlakuan yang setara.

Psikolog klinis Dr. A. Kasandra Putranto menjelaskan, kondisi tersebut muncul akibat adanya ketimpangan emosi dalam sebuah hubungan. Salah satu pihak memiliki kebutuhan besar untuk dicintai dan diterima, sehingga rela mengorbankan harga diri demi mempertahankan relasi yang tidak sehat.

Menurut Dr. Kasandra, rendahnya kepercayaan diri serta rasa takut kehilangan pasangan menjadi faktor utama seseorang terjebak dalam peran “badut” percintaan. Situasi ini membuat individu kerap menoleransi sikap pasangan yang acuh, tidak konsisten, bahkan merugikan secara emosional.

Ia menilai, perilaku tersebut berpotensi menimbulkan dampak psikologis jangka panjang. Rasa lelah emosional, stres, hingga hilangnya penghargaan terhadap diri sendiri dapat muncul jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut.

Dr. Kasandra menegaskan, hubungan yang sehat seharusnya dibangun atas dasar saling menghargai, komunikasi terbuka, dan komitmen yang seimbang. Jika salah satu pihak terus memberi tanpa mendapatkan penghargaan yang layak, maka hubungan tersebut perlu dievaluasi secara serius.

Ia juga mengimbau masyarakat agar lebih berani menetapkan batasan dalam menjalin relasi. Mengenali nilai diri serta memahami bahwa cinta tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan martabat menjadi langkah penting untuk keluar dari pola “badut” dalam percintaan.

Ferel/LPU

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....