Kebiasaan Berutang Demi Menggelar Acara Sosial
- 05 Jan 2026 15:16 WIB
- Manado
KBRN,Manado: Di banyak negara berkembang, termasuk di Asia dan Afrika, kebiasaan berutang demi menggelar acara sosial seperti pernikahan, pesta keluarga, atau perayaan adat masih umum terjadi. Acara besar sering dipandang sebagai simbol kehormatan, keberhasilan, dan penerimaan sosial, sehingga individu atau keluarga merasa perlu mengeluarkan biaya besar meskipun kondisi keuangan tidak memungkinkan.
Sebagaimana dikutip dari laman www.simplypsychology.org Tekanan sosial dan norma budaya menjadi faktor kuat yang mendorong seseorang untuk tetap mengadakan acara besar. Rasa takut dipandang rendah oleh lingkungan sekitar atau dianggap tidak menghormati tradisi membuat banyak orang memilih berutang daripada menyederhanakan acara. Fenomena ini dikenal sebagai social pressure atau normative social influence.
Dilansir dari laman www.investopedia.com Dari sudut pandang ekonomi, berutang untuk acara yang bersifat konsumtif berisiko menimbulkan masalah keuangan jangka panjang. Utang konsumtif tidak menghasilkan nilai ekonomi di masa depan, sehingga dapat menyebabkan kesulitan membayar cicilan, stres finansial, hingga penurunan kualitas hidup setelah acara selesai.
Penelitian di bidang keuangan pribadi menunjukkan bahwa tekanan untuk menggelar acara mewah sering kali berkaitan dengan perilaku keuangan yang tidak sehat. Individu cenderung mengambil keputusan emosional daripada rasional, terutama ketika gengsi dan ekspektasi sosial lebih diutamakan dibanding kemampuan finansial pribadi.
Para ahli perencanaan keuangan menyarankan agar masyarakat menyesuaikan skala acara dengan kemampuan ekonomi dan memprioritaskan stabilitas keuangan jangka panjang. Acara sederhana dinilai mampu mengurangi risiko utang berlebihan sekaligus menjaga kesejahteraan psikologis keluarga.
Seiring meningkatnya literasi keuangan global, sebagian masyarakat mulai mengubah pola pikir dengan lebih mengutamakan makna acara dibanding kemewahan. Pergeseran ini dinilai penting untuk memutus siklus utang sosial yang kerap diwariskan dari generasi ke generasi.
(Stanly Kalumata)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....