Kenapa Pulang Terasa Lebih Singkat daripada Pergi
- 29 Des 2025 08:50 WIB
- Manado
KBRN,Manado: Pernahkah kamu merasa bahwa perjalanan pulang ke rumah terasa jauh lebih cepat daripada perjalanan saat berangkat, padahal rute dan jaraknya sama persis? Fenomena psikologis ini dikenal sebagai “return trip effect” yaitu persepsi bahwa perjalanan pulang berlangsung lebih singkat daripada perjalanan pergi, meskipun sebenarnya durasinya sama.
Sebagaimana dikutip dari laman www.sciencedaily.com Menurut studi psikolog dari Tilburg University, perasaan ini terjadi bukan karena jarak yang sesungguhnya lebih pendek, melainkan karena pengalaman dan ekspektasi yang berbeda pada kedua sisi perjalanan tersebut. Saat berangkat, otak sering merasakan durasi perjalanan lebih lama daripada kenyataannya, karena individu biasanya mengantisipasi waktu hingga mencapai tujuan baru. Sebaliknya, pada saat pulang, ekspektasi waktu sering kali lebih panjang daripada durasi nyata perjalanan, sehingga perjalanan terasa lebih cepat.
Seperti dikutip dari laman www.psychologicalscience.org Dalam percobaan yang melibatkan ratusan peserta, ditemukan bahwa orang memperkirakan perjalanan pulang hingga sekitar 22% lebih cepat daripada perjalanan pergi, padahal jarak dan waktu tempuhnya sama. Penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan persepsi ini tidak hanya terjadi pada rute yang sama, tetapi juga pada rute kembali yang berbeda namun memiliki jarak setara.
Salah satu teori populer adalah bahwa pada saat berangkat ke tempat baru, otak kita lebih fokus memperhatikan lingkungan sekitar, situasi baru, dan ketidakpastian yang muncul sepanjang perjalanan. Semua elemen baru ini membuat otak kita memproses lebih banyak informasi, sehingga waktu terasa berjalan lebih lambat. Pada perjalanan pulang, sisi psikologisnya berubah: otak sudah familiar dengan rute dan tidak perlu memproses detail baru, sehingga waktu “terasa” lebih cepat dilewati.
Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa ekspektasi awal sebelum perjalanan pergi sering kali terlalu optimis atau kurang realistis, sehingga pengalaman awal terasa lebih panjang dari yang dibayangkan. Ketika tiba saat pulang, ekspektasi waktu sudah terbentuk dari pengalaman pertama, dan karena durasi nyata seringkali lebih pendek dari yang diperkirakan, perjalan pulang pun terasa lebih cepat.
Fenomena ini menegaskan bahwa pengalaman waktu bukan hanya soal hitungan jam atau menit menurut jam tangan, tetapi juga soal bagaimana otak dan persepsi sadar kita menafsirkan pengalaman perjalanan berdasarkan situasi emosional dan kognitif selama perjalanan.
(Stanly Kalumata)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....