[Hoaks!] Trump Beli Koin Angklung Indonesia Palsu

  • 16 Des 2025 10:00 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Sebuah video yang mengklaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump membeli uang koin “Angklung Indonesia” dipastikan tidak benar. Konten tersebut merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) dan bersifat komedi menyesatkan.

Video itu dibagikan akun Facebook “Bos Koin Kuno” pada Kamis, 12 Desember 2025. Dalam unggahan tersebut, terlihat sosok Donald Trump sedang berbicara, disertai narasi bahwa ia datang ke Indonesia untuk membeli koin angklung dengan harga Rp25 juta per keping, bahkan diklaim digunakan sebagai bahan baku bom atom.

Unggahan tersebut juga diberi takarir “Koin Angklung Go Internasional Diburu Kolektor Dunia”. Hingga Senin, 15 Desember 2025, konten ini telah memperoleh lebih dari 2.700 tanda suka, 3.600 komentar, serta 222 kali dibagikan oleh pengguna Facebook.

Tim Pemeriksa Fakta Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) melalui TurnBackHoax menelusuri kebenaran konten tersebut dengan bantuan alat pendeteksi AI Hive Moderation. Hasil analisis menunjukkan bahwa video tersebut memiliki probabilitas 99,9 persen sebagai hasil rekayasa AI.

Penelusuran lanjutan menggunakan kata kunci “Donald Trump beli koin angklung Indonesia” tidak menemukan pemberitaan kredibel yang mendukung klaim tersebut. Hasil pencarian justru mengarah pada sejumlah berita tentang aset kripto milik Donald Trump, bukan koin fisik asal Indonesia.

Di antaranya, pemberitaan cnbcindonesia.com yang melaporkan pengumuman Trump terkait pembentukan cadangan kripto strategis Amerika Serikat, serta keuntungan besar keluarga Trump dari perdagangan koin kripto WLFI. Seluruh berita tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan klaim pembelian koin angklung Indonesia.

Sepanjang penelusuran, tidak ditemukan satu pun sumber resmi atau kredibel yang membenarkan narasi bahwa Donald Trump membeli uang koin angklung Indonesia, baik untuk koleksi, investasi, maupun tujuan lain.

Kesimpulan, video yang beredar merupakan konten palsu (fabricated content) berbasis AI dengan klaim yang sepenuhnya tidak berdasar.

(Fika Hamzah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....