[Hoaks] Video TNI Kepung Kapal Malaysia Kepulauan Seribu

  • 05 Nov 2025 15:20 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Sebuah video yang menampilkan kapal perang dan helikopter tempur dengan klaim “TNI kepung kapal Malaysia di Kepulauan Seribu” beredar luas di media sosial. Namun, hasil pemeriksaan fakta menyatakan bahwa video tersebut adalah hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) dan tidak pernah terjadi dalam kenyataan.

Akun Facebook bernama “Nanang Mashuri” mengunggah video itu pada Sabtu, 30 Agustus 2025, dengan narasi yang menggambarkan situasi tegang antara TNI dan kapal tempur Malaysia yang disebut masuk tanpa izin ke perairan Indonesia.

Hingga Selasa (4/11/2025), unggahan tersebut telah mendapat lebih dari 26 ribu tanda suka, 934 komentar, dan dibagikan ulang 422 kali.

Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax), konten tersebut terbukti palsu (fabricated content). Analisis menggunakan alat deteksi AI Hive Moderation menunjukkan bahwa probabilitas video merupakan hasil rekayasa mencapai 99,9 persen.

Selain itu, penelusuran dengan kata kunci “TNI kepung kapal Malaysia di Kepulauan Seribu” di mesin pencarian Google tidak menemukan pemberitaan valid dari media kredibel.

Sebaliknya, hasil pencarian hanya menampilkan sejumlah berita yang tidak berkaitan dengan klaim tersebut, antara lain:

  • Berita Tribunnews.com (25 Juni 2025): “WNA Malaysia Ditemukan Tewas di Atas Kapal Tanker di Kepulauan Seribu.” Kasus ini melibatkan seorang perwira kapal tanker Orkim Fortitude, bukan insiden militer.

  • Berita CNN Indonesia (7 Oktober 2025): “Kapal Nelayan Tenggelam di Kepulauan Seribu, 5 Orang Hilang.” Tidak ada laporan tentang keterlibatan TNI atau kapal Malaysia.

Sepanjang penelusuran, tidak ditemukan informasi resmi dari TNI, Kementerian Pertahanan, atau lembaga terkait yang mengonfirmasi peristiwa sebagaimana diklaim dalam video tersebut.

Video dengan klaim “TNI kepung kapal Malaysia di Kepulauan Seribu” merupakan konten palsu (fabricated content) hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI). Tidak ada bukti faktual atau laporan resmi yang mendukung narasi tersebut.

(Fika Hamzah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....