Transportasi Tradisional Semakin Tergerus: Tantangan & Implikasi

  • 05 Nov 2025 04:49 WIB
  •  Manado

KBRN,Manado: Transportasi tradisional seperti angkutan umum kecil (angkot), becak, oplet, dan moda lokal lainnya dulu menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat terutama di kota-kota dan pedesaan Indonesia. Namun, dalam dekade terakhir, keberadaan dan perannya mulai menurun drastis karena perubahan teknologi, perilaku konsumen, dan kebijakan transportasi.

Faktor-Faktor Penurunan

Beberapa faktor utama yang menyebabkan transportasi tradisional kian tergerus:

  • Sebagaimana dikutip dari laman journal.das-institute.com Peralihan ke moda modern dan digital: Studi di kota Pontianak menunjukkan bahwa layanan tradisional “oplet” mengalami penurunan kepuasan pengguna karena banyak memilih layanan yang lebih modern dan berbasis aplikasi.
  • Dikutip dari laman itdp-indonesia.org Dominasi kendaraan pribadi: Tren penggunaan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor, membuat transportasi tradisional kehilangan pangsa pasar. Sebuah artikel oleh ITDP Indonesia menunjukkan bahwa hanya sekitar 7,77% siswa di Indonesia menggunakan transportasi umum menuju sekolah, sedangkan kendaraan pribadi sangat mendominasi.
  • Ketidaksetaraan kebijakan dan dukungan: Terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa kebijakan transportasi belum memihak sepenuhnya pada moda konvensional/tradisional karena munculnya teknologi baru dan layanan berbasis aplikasi, yang memperlebar kesenjangan antara moda lama dan baru.
  • Penurunan layanan di pedesaan: Di daerah terpencil atau pedesaan, layanan transportasi tradisional seperti bus kecil atau minivan mulai ditinggalkan atau berhenti beroperasi karena kurangnya permintaan dan persaingan dari kendaraan pribadi.

Dampak dari Tergerusnya Transportasi Tradisional

  • Mobilitas masyarakat terganggu: Ketika moda yang dikenal dan terjangkau mulai hilang, masyarakat terutama di daerah dengan akses transportasi terbatas kesulitan mendapatkan mobilitas yang memadai.
  • Dikutip dari laman pub.iocscience.org/ Kehilangan warisan budaya: Moda tradisional seperti becak atau oplet bukan hanya alat transportasi, tetapi juga bagian dari identitas budaya kota/daerah. Penurunan penggunaannya berarti hilangnya aspek budaya tersebut. Sebagai contoh, studi “Exploring community perceptions of traditional becak …” menggambarkan bagaimana masyarakat merasakan hilangnya moda tradisional ini.
  • Pergeseran ke transportasi yang mungkin lebih mahal atau kurang ramah lingkungan: Dengan kurangnya moda tradisional, orang beralih ke kendaraan pribadi yang bisa memperburuk kemacetan, polusi, dan biaya mobilitas.

Upaya Menghadapi Tantangan

Beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk mempertahankan atau mentransformasi transportasi tradisional ke dalam ekosistem mobilitas modern antara lain:

  • Modernisasi dan integrasi moda tradisional ke dalam sistem transportasi publik yang lebih besar (misalnya menjadikan angkot sebagai feeder bagi transportasi massal).
  • Kebijakan subsidi atau insentif untuk moda kecil/tradisional agar tetap lestari di era dominasi aplikasi dan kendaraan pribadi.
  • Pelibatan komunitas lokal dalam mengelola moda tradisional dengan pendekatan inovatif (misalnya digitalisasi operasional, kemitraan dengan platform).
  • Pelestarian aspek budaya moda tradisional sebagai bagian dari pariwisata atau heritage kota agar mendapatkan nilai tambah.

Kesimpulan

Transportasi tradisional di Indonesia menghadapi tekanan besar dari perubahan pola mobilitas, teknologi, dan kebijakan. Walaupun iza tantangan, moda tersebut masih memiliki peran penting baik dari segi sosial-ekonomi maupun budaya. Dengan strategi yang tepat, keberadaan transportasi tradisional bisa dimodernisasi dan dilestarikan sebagai bagian dari sistem transportasi yang inklusif dan berkelanjutan.

(Stanly Kalumata)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....