Meningkatnya Tren Oplas dan Sorotan Risiko Kesehatan

  • 14 Okt 2025 23:40 WIB
  •  Manado

KBRN,Manado: Operasi plastik alias “oplas” semakin populer di kalangan masyarakat Indonesia dan dunia. Keinginan memperindah penampilan, mengikuti tren media sosial, dan citra “ideal” menjadi faktor pendorong munculnya praktik ini. Namun di balik kilau penampilan baru, terdapat risiko kesehatan serius yang kadang luput dari perhatian publik.

Tren Oplas: dari Kecantikan hingga “Pelarian Identitas”

Seperti dikutip dari lamannews.detik.com beberapa kasus publik menunjukkan penggunaan oplas bukan hanya untuk kecantikan, tapi juga untuk tujuan lain. Misalnya, gembong narkoba Fredy ‘Cassanova’ Pratama diduga menggunakan operasi plastik untuk “mengubah wajah” dan menghindari pengejaran aparat.

Sementara itu, dalam lingkup kosmetik dan estetik, dokter bedah plastik dan influencer sering memperingatkan praktik filler payudara dan bokong yang dilakukan tanpa perhitungan profesional yang baik — yang bisa memicu kematian di meja operasi.

Manfaat & Alasan Melakukan Oplas

Operasi plastik memiliki dua kategori utama:

  1. Operasi Rekonstruktif — dilakukan untuk memperbaiki fungsi tubuh atau memperbaiki cacat bawaan/pascakecelakaan.
  2. Operasi Estetik / Kosmetik — untuk mengubah penampilan (wajah, bentuk tubuh, filler, dll).

Operasi estetik banyak diminati karena dampak psikologis positif: meningkatkan rasa percaya diri, menyesuaikan penampilan dengan ideal diri, atau memperbaiki ketidakseimbangan fisik.

Risiko & Komplikasi Oplas

Oplas—terutama jenis kosmetik tidak tanpa bahaya. Berikut beberapa komplikasi yang dicatat:

  • Hasil tidak sesuai / ketidaksimetrian bisa jauh dari harapan pasien.
  • Bekas luka dan jaringan parut (keloid)
  • Kerusakan saraf / mati rasa pada area operasi, kadang permanen
  • Infeksi luka operasi bisa terinfeksi jika prosedur atau perawatan pasca tidak steril
  • Hematoma / perdarahan internal
  • Trombosis vena dalam & emboli paru (gumpalan darah yang berbahaya) beberapa kematian akibat oplas disebabkan komplikasi ini
  • Kematian meskipun jarang, ada kasus kematian pasien setelah menjalani prosedur estetik kombinasi. Contohnya selebgram yang meninggal beberapa jam pasca operasi plastik kombinasi di Turki.
  • Risiko dari filler ilegal / prosedur tak sesuai standar seperti filler payudara/bokong yang dilakukan bukan oleh profesional bisa mengakibatkan kerusakan jaringan dalam tubuh.

Media Tempo pernah memuat daftar bahaya oplas yang ekstrem: suntik minyak silikon, pengangkatan rusuk, atau benang yang salah tempat.

Kasus & Pengawasan Publik

Beberapa kasus terbaru menggarisbawahi bahwa operasi plastik tidak bisa dianggap remeh:

  • Kasus Fredy Pratama — dugaan penggunaan oplas untuk mengubah identitas dianggap tak luput dari sorotan penegak hukum.
  • Peringatan Dr. Tompi — dokter bedah plastik ini memperingatkan bahwa filler payudara dan bokong bisa sangat berbahaya, termasuk kematian, apabila dilakukan tanpa kehati-hatian medis yang ketat.
  • Tragedi influencer — seorang influencer meninggal hanya beberapa jam setelah menjalani beberapa operasi plastik sekaligus di Turki.

Kasus-kasus ini memicu diskusi tentang pengawasan klinik kecantikan dan akuntabilitas praktik estetik, termasuk standar medis, regulasi pemerintah, serta edukasi publik.

Rekomendasi & Kesimpulan

Agar oplas tidak menjadi bahaya tersembunyi, perlu ada kesadaran dan langkah preventif:

  • Pastikan prosedur dilakukan oleh dokter bedah plastik berlisensi dan klinik resmi.
  • Diskusi panjang tentang risiko, hasil, dan kesiapan fisik sebelum menyetujui prosedur.
  • Tidak tergoda prosedur “murah” atau pemasaran yang menjanjikan hasil instan tanpa risiko.
  • Pengawasan ketat dari lembaga kesehatan dan regulasi pemerintah terhadap klinik estetik.
  • Edukasi publik agar memahami bahwa “cantik” bukan hanya fisik — kesejahteraan dan kesehatan tetap utama.

Oplas bisa membawa perubahan positif jika dilakukan dengan pertimbangan matang dan profesionalisme medis. Namun, jika dilakukan secara sembrono atau tanpa standar, dampaknya bisa fatal.

(Stanly Kalumata)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....