Peniti: Alat Sederhana Jadi Simbol Kekuatan dan Solidaritas

  • 29 Sep 2025 22:24 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Peniti benda logam kecil yang biasa dipakai menyemat kain pada pandangan pertama tampak biasa saja. Namun di balik ukuran yang mungil, peniti menyimpan beragam makna budaya dan simbolis: dari fungsi protektif, ikon mode dan pemberontakan, hingga tanda solidaritas sosial.

Alat praktis yang berumur tua

Secara teknis, peniti (safety pin) adalah variasi jarum yang dilengkapi mekanisme pegas dan pengait untuk menutup ujung tajamnya sehingga aman dipakai pada kain dan pakaian. Bentuknya yang fungsional membuatnya dipakai beragam masyarakat sejak lama, mulai untuk menambal pakaian hingga mengikat kain gendongan bayi. Peniti pun pernah berkembang menjadi variasi perhiasan dan aksesori pakaian.

Peniti sebagai pelindung dan jimat budaya

Di beberapa tradisi, peniti dipakai bukan sekadar alat, melainkan juga dipercaya membawa keberuntungan atau melindungi anak dari mara bahaya. Catatan-etnografi menunjukkan praktik penjiplakan peniti pada pakaian anak sebagai upaya mengusir roh jahat atau memberi perlindungan sebuah fungsi ritual yang mengubah obyek praktis jadi simbol magis dalam konteks lokal.

Dari punk ke runway: peniti sebagai pernyataan mode dan pemberontakan

Dikutip dari laman museumofeverydaylife.org Sejak era punk di akhir 1970-an, peniti meninggalkan jejaknya pada dunia mode: dipakai sebagai hiasan, aksesori, bahkan tindikan. Kelompok punk menggunakan peniti untuk mengekspresikan penolakan terhadap norma sosial dan estetika arus utama, menjadikan benda sederhana ini simbol gaya hidup dan perlawanan. Rumah mode dan perancang juga kadang meminjam estetika itu, mengangkat peniti ke ranah high fashion.

Peniti sebagai tanda solidaritas sosial kontemporer

Dalam beberapa peristiwa politik dan sosial modern, peniti dipakai sebagai lambang solidaritas—misalnya gerakan mengenakan peniti setelah referendum Brexit (2016) dan pasca-pemilu AS 2016 untuk menunjukkan dukungan kepada kelompok minoritas atau imigran yang merasa terancam. Simbol ini memicu debat: ada yang memandangnya sebagai aksi simpati bermakna, tetapi ada pula yang menilai simbol itu bersifat gesture tanpa tindakan nyata. Kasus-kasus ini menegaskan bahwa peniti bisa berubah makna bergantung konteks sosialnya.

Yang menarik dari peniti adalah kemampuannya memiliki banyak tafsir: benda yang sama bisa dilihat sebagai alat rumah tangga, perhiasan, jimat, atau simbol politik tergantung siapa yang memakainya dan dalam konteks apa. Karena itu, studi budaya menempatkan peniti sebagai contoh bagaimana objek sehari-hari dapat bertransformasi menjadi penanda nilai, identitas, dan solidaritas sosial.

Kesimpulan

Peniti lebih dari sekadar logam kecil: ia mencerminkan bagaimana masyarakat memberi makna pada benda-benda sehari-hari. Dari fungsi protektif hingga pernyataan mode dan solidaritas politik, peniti menjadi cermin perubahan budaya dan praktik sosial. Memahami filosofi peniti berarti memperhatikan bagaimana objek sederhana dapat memuat narasi besar tentang identitas, perlindungan, dan aksi kolektif.

(Stanly Kalumata)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....