Nasi Aking, Cermin Ketahanan Pangan Masyarakat Kecil

  • 29 Sep 2025 20:28 WIB
  •  Manado

KBRN,Manado: Nasi aking, atau nasi sisa yang dijemur hingga kering lalu dimasak kembali, sejak lama dikenal sebagai makanan alternatif bagi masyarakat di Indonesia. Munculnya nasi aking biasanya terjadi pada saat harga beras naik, krisis pangan, atau kondisi ekonomi yang sulit.

Menurut laporan Antara News, warga di Tuban dan Bojonegoro sudah lama memanfaatkan nasi aking ketika kesulitan membeli beras baru. Nasi sisa dikumpulkan, dijemur, dan dijual kembali dengan harga lebih murah, sekitar Rp2.000 per kilogram. Praktik ini kemudian berkembang tidak hanya untuk konsumsi manusia, tetapi juga menjadi pakan ternak unggas seperti ayam dan bebek.

Fenomena ini juga ditemukan di Jawa Barat. Detik.com mencatat sebuah keluarga lansia di Kuningan yang setiap hari makan nasi aking karena tidak mampu membeli beras. Kondisi tersebut menunjukkan masih ada kelompok masyarakat yang sangat rentan terhadap kenaikan harga bahan pokok.

Namun, dari sisi kesehatan, nasi aking tidak ideal untuk dikonsumsi jangka panjang. Bisnis.com mengutip pernyataan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang mengimbau masyarakat agar tidak menjadikan nasi aking sebagai makanan utama. Alasannya, selain kandungan gizi yang rendah, pengolahan yang tidak higienis berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

Sementara itu, Berita Satu melaporkan bahwa di Indramayu masih ada warga yang mengonsumsi nasi aking sebagai makanan sehari-hari. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan beras, tetapi juga keterjangkauan harga bagi masyarakat miskin.

Dengan demikian, nasi aking adalah cermin nyata persoalan pangan di Indonesia. Ia menjadi solusi darurat bagi sebagian orang, sekaligus peringatan bahwa pemerintah dan semua pihak harus terus bekerja memastikan akses pangan yang sehat dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.

(Stanly Kalumata)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....