Kebotakan: Saat Rambut Menipis, Ketahui Apa yang Terjadi

  • 27 Agt 2025 05:07 WIB
  •  Manado

KBRN,Manado: Fenomena kebotakan atau alopecia semakin sering dialami, tidak hanya pada pria dewasa, tetapi juga wanita dan usia muda. Menurut para ahli, kebotakan dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, hormon, stres, pola makan yang buruk, hingga gaya hidup tidak sehat.

Sebagaimana dikutip dari laman halodoc.com Dokter Spesialis Kulit dari RSCM, dr. Sondang Sirait, Sp.KK, menjelaskan bahwa penyebab tersering adalah androgenetic alopecia, yang dipicu oleh sensitivitas rambut terhadap hormon androgen. “Selain faktor genetik, stres, pola tidur tidak teratur, dan kekurangan nutrisi juga berperan besar dalam mempercepat kerontokan rambut,” jelasnya.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI dalam laman resminya menyebutkan bahwa upaya pencegahan bisa dilakukan melalui perawatan rambut yang tepat, konsumsi makanan bergizi seimbang (protein, zat besi, vitamin D, dan zinc), serta mengurangi stres. Penggunaan obat medis seperti minoxidil atau tindakan medis tertentu juga dapat membantu memperlambat proses kebotakan.

Fenomena kebotakan kini juga berdampak psikologis. Banyak penderita mengalami penurunan rasa percaya diri, bahkan depresi. Oleh karena itu, para ahli menekankan pentingnya edukasi masyarakat tentang kesehatan rambut dan gaya hidup sehat.

Berikut ini adalah penyebab terjadinya kebotakan:

1. Genetik & Androgen (Keturunan dan Hormon)

Bentuk paling umum kebotakan adalah androgenetic alopecia (male/female pattern baldness). Dimulai biasanya di usia dewasa, kondisi ini dipicu oleh sensitivitas folikel terhadap hormon DHT (dihydrotestosterone). Pada pria, pola ini mulai terlihat dengan mundurnya garis rambut dan penipisan di bagian mahkota. Faktor genetik bisa berasal dari kedua orang tua tidak hanya dari garis ibu seperti mitos umum dan menyumbang hingga 70 % risiko kebotakan pada pria.

2. Kondisi Medis & Ketidakseimbangan Hormonal

Kebotakan bisa menjadi gejala dari kondisi medis seperti:

  • Alopecia areata: gangguan autoimun yang menyebabkan rambut rontok berbentuk patch.
  • Gangguan tiroid, lupus, sifilis: merusak siklus pertumbuhan rambut.
  • Terapi kanker (kemoterapi/radiasi): memicu kerontokan total sementara.

3. Stres Fisik/Emosional & Nutrisi Buruk

Stres berat seperti penyakit, operasi, atau trauma dapat memicu telogen effluvium, yaitu folikel rambut memasuki fase istirahat secara mendadak dan menyebabkan kerontokan massal yang umumnya sementara.

Kekurangan nutrisi penting seperti zat besi, vitamin D, B-vitamin, zinc, dan protein dapat melemahkan folikel dan memperparah kebotakan.

4. Gaya Hidup & Perawatan Rambut yang Tidak Tepat

  • Merokok, kurang tidur, alkohol, diet tidak seimbang bisa mempercepat kerontokan.
  • Gaya rambut seperti mengikat terlalu kencang (alopecia traksi), penggunaan bahan kimia keras, maupun alat panas berlebihan (catokan, hair dryer) juga merusak folikel.

5. Angka & Dampak Kebotakan

Menurut Britannica, 30–50 % pria sudah mengalami bentuk kebotakan pada usia 50 tahun. Pola yang sama terjadi pada wanita, meski lebih jarang dan penyebarannya lebih menyeluruh di bagian mahkota.

Kesimpulan

Kebotakan bisa muncul karena kombinasi faktor genetik, hormonal, medis, stres, nutrisi hingga gaya hidup. Kendati beberapa faktor seperti genetik tak dapat dihindari, banyak langkah pencegahan dan penanganan efektif tersedia. Jika kerontokan rambut mengganggu atau disertai gejala sistemik, konsultasi dokter sangat direkomendasikan.

(Stanly Kalumata)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....