Membongkar Misteri “Déjà Vu” di Otak Manusia
- 15 Agt 2025 10:55 WIB
- Manado
KBRN Manado : Rasanya familiar ketika tengah mengalami sesuatu yang sebenarnya baru, itulah yang dinamakan déjà vu. Fenomena ini umum dialami sekitar 60–97% orang meski penyebab pastinya masih jadi misteri ilmiah.
Salah satu teori utama disebut split perception. Menurut penjelasan ini, kejadian yang kita alami diproses dua kali oleh otak secara berturut-turut. Input pertama mungkin samar atau tertunda, sementara input kedua langsung masuk kesadaran membuat situasi terasa familiar tanpa akar memori yang jelas.
Teori lain menyebutkan adanya “jalan pintas” memori. Informasi baru bisa tersimpan langsung ke memori jangka panjang, melewati tahap memori jangka pendek. Akibatnya, otak menganggap pengalaman baru seolah seperti pengetahuan lama.
Beberapa penelitian neuro-fisiologis menunjukkan bahwa déjà vu sering dikaitkan dengan aktivitas di area temporal dan frontal otak. Ada hipotesis bahwa déjà vu bisa terjadi karena ada “mini seizure” atau lonjakan aktivitas ringan di temporal lobe bagian otak yang berkaitan dengan pembentukan memori. Setelah itu, frontal lobe memeriksa kesesuaian memori, menyebabkan ketidakcocokan yang terasa seperti pengalaman keliru tapi familiar.
Dalam konteks psikologi metakognitif, Anne M. Cleary (2008) menyebut bahwa déjà vu muncul ketika pengalaman baru memiliki kesamaan dengan pengalaman terdahulu secara implisit. Otak mengasosiasikan elemen serupa, meski ingatan utuh tak muncul. Ini disebut sebagai “memori porsional” yang memicu sensasi familiar namun tidak jelas asalnya.
Selain itu, faktor eksternal seperti stres, kelelahan, atau tekanan mental juga memperbesar kemungkinan munculnya déjà vu karena kondisi ini mempengaruhi cara otak memproses informasi dan memori, membuat glitch kecil lebih mungkin terjadi. (Apri Sri Devi Simatupang/LPU)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....