Benarkah Otak Menyukai Kenangan Menyakitkan?

  • 15 Agt 2025 10:49 WIB
  •  Manado

KBRN Manado : Trauma meninggalkan jejak mendalam di otak, menjadikan ingatan atas peristiwa traumatik tetap membekas meski waktu berlalu. Menurut jurnal, dua struktur utama yaitu amigdala dan hipokampus memiliki peran kunci dalam mekanisme memori trauma ini.

Amigdala bertindak sebagai pusat pengendali emosi, khususnya rasa takut. Saat terjadi peristiwa traumatik, amigdala menjadi sangat aktif, mendorong otak untuk "menyimpan" memori tersebut dengan intensitas tinggi. Proses ini diperkuat dengan adanya hormon stres seperti kortisol dan epinefrin yang memperkuat daya ingat emosional melalui pengaruh sinaptik (synaptic plasticity)

Sementara itu, hipokampus berfungsi menyimpan konteks seperti waktu dan tempat dari pengalaman tersebut. Trauma kronis mengganggu fungsi hipokampus sehingga memori tersimpan tanpa konteks jelas, hanya sebagai fragmen emosional. Hal ini dapat menjelaskan fenomena flashback mendadak yang sering dialami penderita PTSD: ingatan muncul tiba-tiba tanpa pengingat kontekstual.

Penderita PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) menunjukkan pola aktivitas amigdala dan hipokampus yang berbeda dengan individu yang pernah trauma tapi tidak sampai PTSD. Penelitian fMRI mencatat bahwa mereka mengalami aktivitas amigdala yang sangat tinggi saat mengkode memori negatif, dan respons ini sangat berkaitan dengan intensitas gejala PTSD mereka. Aktivitas hipokampus pun lebih tinggi saat mengingat momen tersebut. Artinya, trauma menimbulkan reaksi yang lebih menegaskan ingatan emosional daripada kontekstual.

Menariknya, penelitian longitudinal pada korban trauma menunjukkan adanya perbedaan volume subregion hipokampus sebelum dan setelah trauma. Mereka yang tidak pulih dari PTSD memiliki volume hipokampus subiculum dan CA1 lebih kecil, serta amigdala kiri yang lebih besar dibandingkan kelompok yang berhasil pulih. Hal ini mendukung hipotesis bahwa struktur otak tertentu mungkin menjadi faktor kerentanan trauma.

Struktur otak lain seperti korteks prefrontal  juga memiliki peran penting. Di bawah tekanan trauma, fungsi ini melemah sehingga kemampuan mengatur emosi dan menekan respons amigdala terganggu. Akibatnya, ingatan negatif menjadi dominan.

Trauma sulit terlupakan karena amigdala memperkuat proses penyimpanan memori emosional, sementara hipokampus dan korteks prefrontal tidak mampu memberikan konteks atau mekanisme penghambatan emosi. Menurut jurnal, kondisi ini menjadikan ingatan traumatik tahan lama dan terkadang di luar kendali. (Apri Sri Devi Simatupang/LPU)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....