Hidup Bertetangga: Pemukiman Tradisional vs Perumahan Modern.

  • 02 Agt 2025 08:50 WIB
  •  Manado

KBRN,Manado: Pola hidup bertetangga di Indonesia kini mengalami perubahan seiring berkembangnya perumahan modern. Jika dulu kehidupan bertetangga di pemukiman tradisional dikenal akrab dan penuh interaksi sosial, kini suasana itu mulai bergeser di kawasan perumahan formal yang lebih privat dan eksklusif.

Sebagaimana dikutip dari laman ugm.ac.id Dalam pemukiman tradisional seperti kampung atau desa, interaksi antarwarga umumnya erat. Kegiatan gotong royong, saling mengantar makanan, hingga arisan RT menjadi bagian dari keseharian. Dr. Poppy S. Winanti, dosen FISIPOL UGM, menyatakan bahwa "hubungan sosial di kampung cenderung lebih kolektif karena adanya nilai kebersamaan yang diwariskan turun-temurun."

Sebaliknya, di lingkungan perumahan modern, yang didesain lebih tertutup dan berorientasi pada privasi, interaksi sosial antarwarga cenderung lebih terbatas. Banyak penghuni bahkan tidak mengenal tetangga satu blok. Hal ini diperkuat oleh hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) tahun 2022 yang menyebutkan bahwa hanya 43% warga perumahan mengenal nama tetangga sebelah rumah mereka, sementara di pemukiman tradisional angkanya mencapai 82%.

Menurut sosiolog perkotaan, Dr. Imam Prasodjo, perbedaan ini dipengaruhi oleh desain kawasan dan gaya hidup masyarakat urban. “Di perumahan modern, ruang komunal sangat minim, sehingga warga tidak memiliki cukup ruang untuk berinteraksi secara natural,” ujarnya dalam wawancara dengan Kompas (2023).

Meski demikian, tren positif juga mulai muncul. Beberapa pengembang perumahan mulai menyediakan ruang terbuka, taman, dan area komunal untuk menghidupkan kembali interaksi sosial antarwarga. Inisiatif warga seperti grup WhatsApp RT, komunitas olahraga, atau kegiatan keagamaan juga membantu memperkuat tali silaturahmi di tengah tantangan gaya hidup modern.

(Stanly Kalumata)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....