Tradisi Nusantara Kian Terkikis Arus Modernisasi

  • 27 Jul 2025 13:47 WIB
  •  Manado

KBRN,Manado: Tradisi-tradisi lokal yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia kini semakin tergerus oleh derasnya arus modernisasi. Gaya hidup global, kemajuan teknologi, dan urbanisasi dinilai sebagai faktor utama penyebab lunturnya nilai-nilai adat yang telah diwariskan turun-temurun.

Seperti dikutip dari laman apnews.com Salah satu contohnya dapat dilihat di Enggros, Jayapura, Papua, tempat di mana para perempuan adat selama enam generasi melestarikan tradisi bernama Tonotwiyat, yakni kegiatan memanen hasil laut dan berkumpul di hutan mangrove yang mereka sebut “hutan perempuan.” Namun, kini kawasan itu terancam oleh polusi plastik dan proyek pembangunan. Populasi biota laut menurun drastis, dan tempat sakral tersebut kian sulit diakses. Perempuan-perempuan adat kini melakukan reboisasi dan kampanye pelestarian lingkungan demi menjaga kelangsungan budaya mereka.

Sementara itu di Bali, kekhawatiran serupa juga mencuat. Tarian sakral Rejang Dewa yang ditampilkan dalam upacara keagamaan oleh anak perempuan usia dini kini menghadapi ancaman kepunahan. Banyak generasi muda memilih menetap di kota atau luar negeri, sehingga jumlah penari yang bersedia mengikuti ritual adat terus menurun. Warga lokal khawatir jika hal ini dibiarkan, ritual-ritual sakral akan hanya menjadi tontonan wisata, kehilangan makna spiritualnya.

Tak hanya di Papua dan Bali, fenomena terkikisnya budaya juga terjadi di banyak daerah lain. Menurut laporan dari situs mengeja.id, perubahan gaya hidup dan kurangnya edukasi budaya di sekolah membuat generasi muda tak lagi akrab dengan kearifan lokal seperti gotong royong, upacara adat, hingga penggunaan bahasa daerah.

“Teknologi dan globalisasi memang membawa kemajuan, tapi jika tidak diimbangi dengan pelestarian budaya, kita akan kehilangan identitas,” ujar Dosen Antropologi Universitas Indonesia, Dr. Rina Hartini.

Meski begitu, masih ada harapan. Sejumlah komunitas budaya mulai memanfaatkan media sosial dan teknologi digital untuk mendokumentasikan dan mempromosikan budaya lokal. Misalnya, tradisi minum jamu yang dulu dianggap kuno kini tampil dalam kemasan modern dan dijajakan secara daring oleh generasi milenial di Solo dan Yogyakarta. Pemerintah pun mendorong agar jamu diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO.

Pemerhati budaya mengimbau agar pemerintah dan masyarakat bekerja sama dalam menyusun regulasi pelindung budaya serta memasukkan pendidikan budaya ke dalam kurikulum formal. Selain itu, pelibatan aktif generasi muda dalam festival, digitalisasi arsip budaya, dan wisata edukatif dapat menjadi solusi agar budaya tak hanya dipertahankan, tapi juga dikembangkan secara kontekstual di era modern.

(Stanly Kalumata)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....