Stres Bikin Lapar Palsu? Ini Faktanya
- 24 Jul 2025 10:49 WIB
- Manado
KBRN Manado : Pernah merasa ingin makan cokelat atau keripik saat stres, meskipun tidak lapar? Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan, tapi ada penjelasan ilmiah di baliknya.
Saat tubuh berada dalam kondisi tertekan, sistem saraf simpatik aktif dan memicu pelepasan hormon stres, terutama kortisol. Hormon ini bukan hanya meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, tapi juga punya efek langsung terhadap nafsu makan. Kortisol membuat tubuh "bersiap siaga", dan salah satu responsnya adalah mendorong kita mencari sumber energi cepat yakni makanan tinggi lemak, gula, dan garam.
Penelitian dari Harvard Medical School menyebutkan bahwa stres kronis meningkatkan preferensi terhadap makanan tinggi kalori, yang dalam jangka panjang bisa berdampak pada berat badan.
Sementara itu, studi oleh Dallman et al. (2003) dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menemukan bahwa asupan makanan tinggi lemak saat stres dapat menurunkan aktivitas di sumbu HPA (hipothalamus–pituitary–adrenal), yang bertugas mengatur stres. Itulah sebabnya ngemil bisa membuat kita merasa "lega" sejenak.
Namun, ada sisi jebakan. Efek lega dari ngemil bersifat sementara. Tubuh akan terbiasa mencari ‘penghiburan’ dari makanan setiap kali stres datang. Dalam jangka panjang, hal ini bisa mengganggu kesehatan mental dan fisik.
Alternatif lebih sehat? Cobalah teknik pernapasan dalam, olahraga ringan, journaling, atau sekadar berjalan kaki saat stres. Kegiatan ini terbukti bisa mengurangi hormon stres tanpa mengandalkan camilan sebagai pelarian.
Ngemil saat stres memang manusiawi. Tapi mengenali penyebabnya dan menggantinya dengan coping mechanism yang lebih sehat bisa membantu menjaga tubuh dan pikiran tetap seimbang. (Apri Sri Devi Simatupang/LPU)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....