Motivasi di Media Sosial: Obat atau Ilusi?

  • 16 Jul 2025 09:35 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Dalam beberapa tahun terakhir, video motivasi membanjiri linimasa digital. Dari YouTube, TikTok, hingga reels Instagram, kalimat penuh semangat seperti “Kamu pasti bisa!” atau “Jangan menyerah!” terdengar setiap hari. Meski terlihat positif, muncul kekhawatiran: apakah konten motivasi ini memberi dorongan nyata, atau hanya menjadi pelarian emosional yang semu?

Fenomena ini dikenal dalam psikologi digital sebagai emotional dependency on inspirational content, ketika seseorang merasa "cukup" hanya dengan menonton konten motivasi, tanpa diiringi tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Studi dari Journal of Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking menyatakan bahwa konsumsi berlebih terhadap konten motivasi dapat menciptakan "dopamin instan" tanpa perubahan perilaku jangka panjang. Individu merasa terdorong sesaat, tetapi tak membuat keputusan nyata yang berdampak pada kehidupannya.

Di sisi lain, jurnal Contemporary Educational Psychology oleh Ryan & Deci (2000) menjelaskan bahwa motivasi sejati berasal dari dalam diri (intrinsik), bukan dari kata-kata eksternal. Jika konten motivasi hanya berfungsi sebagai distraksi emosional, maka pengguna justru terjebak dalam loop pasif yakni mengonsumsi, merasa semangat, lalu kembali diam.

Sayangnya, algoritma media sosial memperkuat ketergantungan ini. Video motivasi diputar berulang, menyesuaikan dengan suasana hati pengguna. Akibatnya, konten motivasi berubah fungsi: dari inspirasi menjadi candu emosional.

Dalam jangka panjang, ini berdampak pada kepercayaan diri. Seseorang mulai berpikir bahwa perubahan hanya butuh “semangat” bukan disiplin, proses, atau strategi yang realistis. Beberapa bahkan mengalami apa yang disebut “false sense of progress”, yaitu merasa berkembang padahal hanya banyak menonton.

Konten motivasi memang bisa menjadi pemicu awal. Namun jika dikonsumsi berlebihan tanpa refleksi dan aksi nyata, ia justru bisa memperkuat ketergantungan emosional. Solusinya bukan menolak motivasi, tetapi membatasi eksposur dan menyeimbangkannya dengan tindakan konkret yang konsisten. (Apri Sri Devi Simatupang/LPU)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....