Tren Nama Unik: Cermin Identitas atau Krisis?

  • 16 Jul 2025 08:59 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Pemberian nama adalah keputusan penting mencerminkan harapan, budaya, dan nilai yang ingin ditanamkan orang tua. Namun belakangan muncul tren memberi nama unik, asal, dan eksotis kepada anak di Indonesia. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah ini bukti kreativitas atau justru pertanda krisis identitas?

Secara global, praktik memilih nama unik muncul dalam berbagai konteks migrasi dan diasporik. Sebuah studi dalam jurnal Comparative Migration Studies (Amit & Dolberg, 2023) menunjukkan bahwa imigran yang memilih nama “lokal” mampu meningkatkan rasa diterima dan identitas sosial di negara baru. Ini berarti nama punya fungsi strategis—mencerminkan siapa kita bagi masyarakat.

Tren serupa terjadi di kalangan pelajar China daratan, yang memilih nama Inggris agar berbeda, mudah diingat, dan mencerminkan identitas bangga terhadap dirinya sebuah bentuk self‑agency dalam penamaan .

Selain itu, tinjauan literatur oleh Zetiara Sabila & Zarina Akbar (2024) dalam Proceeding Series of Psychology menyimpulkan bahwa nama pribadi adalah simbol identitas dan ekspresi budaya. Nama-nama tersebut seringkali menunjukkan integrasi budaya dan berdampak pada pembangunan konsep diri anak.

Dalam konteks Indonesia, tren penamaan unik terkait globalisasi dan keinginan jadi berbeda. Contohnya anak diberi nama Latin, Jepang, atau gabungan kata modern. Tren ini terlihat sebagai bentuk ekspresi individual, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran: apakah pemberian nama seperti itu membuat anak kehilangan koneksi budaya lokal dan akar identitas tradisional?

Jurnal antroplinguistik menyebut bahwa nama daerah, seperti Sunda atau Jawa, tidak hanya identitas tetapi juga simbol ikatan komunitas. Pergantian ke nama unik asing bisa memicu kecenderungan melemahnya keterikatan budaya lokal.

Tren ini dua sisi: positif untuk kreativitas dan self‑expression; namun juga perlu disertai kesadaran akan dampaknya terhadap integrasi sosial dan rasa “belonging”, terutama di usia dewasa. Kunci: kesadaran orang tua bahwa nama bukan sekadar indah, tapi juga warisan psikologis dan budaya. (Apri Sri Devi Simatupang/LPU)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....