"Bapukat" Tradisi Menjaring Ikan yang Tetap Hidup Nelayan
- 04 Jul 2025 14:37 WIB
- Manado
KBRN Manado : Di tengah gempuran teknologi penangkapan ikan modern, nelayan tradisional di pesisir Manado masih mempertahankan metode “Bapukat”, yaitu cara menjaring ikan dengan menggunakan pukat tradisional. Kegiatan ini bukan hanya sekadar mencari nafkah, tetapi juga bentuk warisan budaya maritim masyarakat pesisir Sulawesi Utara.
Menurut Pak Marthen Lumowa, seorang nelayan asal Sario Tumpaan yang sudah lebih dari 30 tahun melaut, “Bapukat itu bukan cuma soal dapat ikan, tapi ada rasa puas dan bangga kalau bisa tangkap ikan pakai cara tradisional. Ini cara orang tua kita dari dulu.”
Ia menjelaskan bahwa kegiatan bapukat dilakukan saat air laut surut atau pada waktu-waktu tertentu saat gerakan ikan lebih aktif. “Biasanya subuh atau sore hari, tergantung arah angin dan arus. Kita lia-liat bulan juga,” tambahnya.
Nelayan lain, Om Frets Mandey, mengatakan bahwa bapukat juga mengajarkan kerja sama. “Biasa kita bapukat bareng-bareng, dua sampe lima orang. Butuh kerjasama. Itu yang bikin kita tetap dekat dan saling bantu.”
Ahli kelautan dari Universitas Sam Ratulangi, Dr. Adi Runtuwene, menilai kegiatan bapukat penting dilestarikan. “Bapukat itu bagian dari ekologi lokal dan budaya masyarakat pesisir. Selain ramah lingkungan, metode ini tidak merusak habitat laut seperti halnya alat tangkap modern yang destruktif.”
Meski hasil tangkapan tidak sebanyak alat modern, nelayan Manado tetap bangga menjaga tradisi ini. Mereka berharap generasi muda juga mau belajar dan menghargai cara bapukat agar budaya laut Minahasa tidak hilang tergerus zaman.
( Feyhrel Makahekung )
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....