Asal Usul Layangan

  • 15 Jun 2025 22:38 WIB
  •  Manado

KBRN,Manado: Layangan atau layang-layang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya saat musim kemarau tiba. Namun siapa sangka, benda sederhana yang sering terlihat di langit biru ini menyimpan sejarah panjang dan menarik yang bermula ribuan tahun lalu di negeri Tiongkok.

Sejarawan dunia sepakat bahwa layangan pertama kali dibuat di Tiongkok sekitar 2.800 tahun yang lalu. Hal ini diungkapkan oleh Joseph Needham dalam bukunya Science and Civilization in China: Volume 4, di mana disebutkan bahwa layangan awal digunakan oleh militer Tiongkok untuk keperluan perang, bukan sebagai permainan. Layangan dipakai untuk mengukur jarak, mengirim pesan rahasia, hingga untuk menakuti musuh di medan perang.

Salah satu tokoh yang dianggap sebagai penemu layangan adalah Mozi (sekitar 470–391 SM), seorang filsuf dan insinyur Tiongkok. Dalam catatan sejarah yang dimuat di buku Needham tersebut, Mozi menciptakan layangan dari kayu yang bisa terbang di udara. Tidak lama kemudian, bahan pembuatan layangan berkembang menggunakan sutra dan kertas yang lebih ringan, sejalan dengan kemajuan teknologi di masa itu.

Dikutip dari bbc.com informasi serupa juga dipaparkan oleh situs BBC Travel dalam artikelnya berjudul “The 2,800-year History of Kites” yang menyebut bahwa layangan digunakan oleh pasukan militer untuk mengintai wilayah lawan dan bahkan menentukan jalur serangan. Dari Tiongkok, tradisi ini kemudian menyebar ke berbagai penjuru Asia seperti Jepang, Korea, India, dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Di Indonesia sendiri, layangan telah lama menjadi bagian penting dalam budaya masyarakat. Museum Layang-Layang Indonesia yang terletak di Jakarta mencatat bahwa layangan di Nusantara tidak hanya dijadikan permainan, namun juga digunakan untuk keperluan ritual dan upacara adat. Di Bali misalnya, layangan berperan dalam Festival Layang-Layang Bali (Bali Kite Festival) yang digelar setiap tahun. Festival ini diadakan sebagai penghormatan kepada Dewa Rare Angon, dewa pelindung sawah dan hasil bumi. Layangan-layangan raksasa berbentuk unik diterbangkan ke langit sebagai lambang permohonan agar hasil panen melimpah.

Tak hanya di Bali, di beberapa daerah pesisir utara Jawa seperti Cirebon dan Indramayu, nelayan tradisional pernah menggunakan layangan untuk membantu memancing ikan di laut lepas, di mana umpan digantung pada tali layangan yang diterbangkan di atas air.

Penyebaran layangan ke dunia Barat terjadi melalui jalur perdagangan Jalur Sutra pada abad ke-13. Situs National Geographic dalam artikelnya “Kites: An Ancient Invention” mengungkapkan bahwa bangsa Eropa mulai mengenal layangan setelah dibawa oleh para pedagang Asia. Bahkan di Amerika Serikat, layangan menjadi bagian penting dalam sejarah sains ketika Benjamin Franklin menggunakannya dalam eksperimen listriknya yang terkenal pada tahun 1752. Percobaan tersebut menjadi tonggak awal pemahaman tentang listrik statis dan petir.

Kini, layangan tidak lagi hanya menjadi alat militer atau benda sakral. Ia telah berevolusi menjadi permainan rakyat, olahraga internasional, bahkan media ekspresi seni kontemporer. Di berbagai negara, festival layang-layang digelar secara rutin, menampilkan beragam kreasi layangan unik dari berbagai budaya.

Di Indonesia, Museum Layang-Layang Indonesia menjadi saksi bisu perjalanan layangan dari masa ke masa. Museum ini menyimpan lebih dari 600 koleksi layangan tradisional dan modern dari berbagai daerah di dalam dan luar negeri. Pengunjung bisa melihat langsung aneka bentuk dan fungsi layangan dari masa lampau hingga sekarang.

Sejarah panjang layangan membuktikan bahwa benda sederhana ini ternyata punya peran besar dalam perjalanan peradaban manusia dari alat tempur hingga simbol budaya yang mempererat hubungan antarmanusia di berbagai belahan dunia.

(Stanly Kalumata)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....