Fenomena Bebal di Indonesia: Nalar Tak Lagi Berbicara

  • 07 Jun 2025 09:58 WIB
  •  Manado

KBRN,Manado: Istilah "bebal" sering muncul dalam percakapan sehari-hari masyarakat Indonesia, merujuk pada orang yang keras kepala, enggan mendengar, dan sulit menerima fakta. Tapi, perilaku ini bukan semata kesalahan pribadi, melainkan bisa dijelaskan melalui ilmu psikologi sosial, terutama dengan dua konsep penting: efek Dunning-Kruger dan confirmation bias.

Apa itu Bebal dan Mengapa Terjadi?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata bebal berarti bodoh; tidak dapat diajar atau dinasihati; keras kepala. Ini tidak selalu berkaitan dengan tingkat pendidikan, tetapi lebih kepada cara seseorang merespons informasi dan kritik.

Psikologi modern menjelaskan bahwa kebebalan sering diperkuat oleh dua bias berikut:

1. Efek Dunning-Kruger

Dikutip dari laman psycnet.apa.org Merujuk pada penelitian Justin Kruger dan David Dunning (1999), efek ini menjelaskan bahwa orang yang memiliki kemampuan rendah dalam suatu bidang cenderung melebih-lebihkan pengetahuannya karena tidak mampu mengenali keterbatasan dirinya sendiri.

“Not only do they reach erroneous conclusions and make unfortunate choices, but their incompetence robs them of the metacognitive ability to realize it.”

— Kruger & Dunning, Journal of Personality and Social Psychology, 1999

2. Confirmation Bias

Dijelaskan oleh Raymond S. Nickerson (1998), ini adalah kecenderungan orang untuk mencari dan menafsirkan informasi sesuai dengan keyakinannya, dan mengabaikan bukti yang bertentangan.

“People are inclined to regard arguments confirming their beliefs as stronger than arguments that contradict them.”

— Nickerson, Review of General Psychology, 1998

Contoh Nyata di Masyarakat Indonesia

1. Fanatisme Politik

Setiap pemilu, fanatisme calon sering mengalahkan fakta objektif. Banyak pemilih tetap membela tokoh politiknya meskipun data korupsi atau pelanggaran hukum telah disajikan secara terbuka.

Studi oleh LIPI (2019) menunjukkan bahwa fanatisme politik di Indonesia kerap berakar dari identitas sosial, bukan rasionalitas pemilih:

“Pemilih cenderung tetap loyal pada calon meskipun fakta negatif sudah diketahui. Ini menunjukkan adanya bias kognitif yang kuat dalam proses demokrasi.”

— Penelitian LIPI, 2019

2. Penolakan Sains dan Logika Umum

Dikutip dari laman Katadata.co.id Contoh lain adalah maraknya kepercayaan tak berdasar (pseudoscience) dan hoaks. Dalam survei Mafindo dan Katadata (2022), ditemukan bahwa 64% responden pernah mempercayai informasi hoaks sebelum memverifikasi.

Kenapa Bebal Sulit Diubah?

Menurut Elizabeth Krumrei-Mancuso, peneliti di Pepperdine University, orang yang rendah intellectual humility atau kerendahan hati intelektual lebih sulit menerima koreksi, karena ego mereka terlalu terikat dengan opini pribadi.

“The ability to admit that one might be wrong is essential for learning, but it is psychologically threatening for many.”

— Krumrei-Mancuso, Journal of Positive Psychology, 2016

Solusi: Menumbuhkan Budaya Berpikir Kritis

Para ahli menyarankan langkah-langkah berikut untuk mengatasi budaya bebal:

  1. Pendidikan Berpikir Kritis Sejak Dini
    Mengintegrasikan logical thinking, evaluasi sumber, dan diskusi terbuka di sekolah.
  2. Literasi Media
    Meningkatkan kemampuan memilah informasi digital yang valid vs hoaks, melalui program komunitas seperti yang dilakukan Mafindo dan ICT Watch.
  3. Melatih Kerendahan Hati Intelektual
    Mendorong orang untuk mengatakan "saya belum tahu" atau "saya bisa salah", sebagai kekuatan, bukan kelemahan.

Kesimpulan

Fenomena bebal bukan hanya problem komunikasi atau pendidikan, tetapi cerminan cara berpikir masyarakat. Bebal tidak selalu berarti bodoh, tetapi sering berarti tak mau belajar dan terlalu yakin diri.

Dengan memahami akar psikologisnya dan memupuk budaya berpikir kritis, masyarakat Indonesia dapat mengatasi kebebalan dan melangkah menuju diskusi publik yang sehat dan produktif.

(Stanly Kalumata)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....