"Ikat Pinggang: Dari Simbol Militer Kuno hingga Kerajinan Unggulan Nusantara"
- 16 Apr 2025 23:43 WIB
- Manado
KBRN,Manado: Ikat pinggang, yang awalnya digunakan oleh prajurit militer untuk mengikat pakaian dan membawa senjata, telah mengalami evolusi fungsi dan makna sepanjang sejarah.Dalam peradaban kuno seperti Mesir dan Mesopotamia, ikat pinggang terbuat dari bahan alami seperti akar pohon dan kulit binatang, berfungsi sebagai alat praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Di kutip dari laman kumparan.com, Memasuki abad ke-19, ikat pinggang menjadi bagian dari seragam militer, digunakan untuk menyimpan senjata dan perlengkapan lainnya.Pada tahun 1920-an, penggunaannya meluas ke masyarakat umum, menjadi aksesori mode yang penting bagi pria dan wanita.
Di Indonesia, ikat pinggang telah berkembang menjadi produk kerajinan yang bernilai tinggi.Di Mojokerto, Jawa Timur, seorang pengrajin bernama Dafit Joko Wahono melanjutkan usaha keluarga dalam memproduksi ikat pinggang berbahan cotton council internasional (CCI), dengan produksi mencapai 30 lusin per hari dan omzet hingga Rp 50 juta per bulan.
Di Tegal, Jawa Tengah, industri kerajinan kulit menghasilkan ikat pinggang yang diminati pasar domestik dan internasional, termasuk Singapura dan Belanda.
Sementara itu, di Kepulauan Tanimbar, Maluku, ikat pinggang berbahan dasar kayu arang telah ditetapkan sebagai produk unggulan daerah, mencerminkan kearifan lokal dan potensi ekonomi masyarakat setempat.
Transformasi ikat pinggang dari alat militer menjadi simbol budaya dan produk ekonomi kreatif menunjukkan adaptasi dan inovasi masyarakat dalam mempertahankan warisan budaya sambil memenuhi kebutuhan zaman.
(Stanly Kalumata)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....