Eksistensi Kabasaran di Kota: Bukan Sekadar Seni, tapi Pelindung Adat

  • 08 Mei 2026 16:20 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Eksistensi Kabasaran di tengah hiruk-pikuk perkotaan ternyata masih berakar kuat. Namun, jauh dari sekadar tarian perang yang identik dengan senjata tajam, Kabasaran di era modern kini bertransformasi menjadi simbol identitas dan pengingat moral bagi masyarakat Minahasa.

Pemimpin Kabasaran Kumeted Tonsea, Charles Somba, mengungkapkan bahwa peran Kabasaran saat ini adalah sebagai penyeimbang sosial. Menurutnya, nilai-nilai Warane atau ksatria harus diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari, terutama dalam meluruskan cara berpikir yang mulai melenceng dari tradisi.

"Kabasaran itu tugasnya meluruskan kembali hal yang tidak bagus. Kalau di kota ada yang mulai melenceng cara berpikirnya, kita harus ingatkan bahwa itu salah. Ini adalah identitas kita sebagai orang Minahasa untuk saling menjaga," ujar Charles.

Terkait atribut yang digunakan, Charles menjelaskan bahwa setiap elemen memiliki filosofi mendalam yang relevan dengan kehidupan masa kini. Peda atau pedang bukan lagi alat perang fisik, melainkan simbol pembuka jalan dan pertahanan diri dalam menghadapi tantangan hidup yang semakin kompleks di perkotaan.

"Peda ini simbol pembuka jalan. Kalau dulu kita pakai untuk memaras hutan, sekarang maknanya adalah bagaimana kita membuka jalan dan bertahan diri dalam persaingan sehat di lapangan pekerjaan," katanya menjelaskan.

Menanggapi tantangan di era digital, ia tidak menampik bahwa banyak anak muda yang mulai merasa asing dengan budayanya sendiri. Untuk itu, ia aktif menggunakan media sosial guna menyebarkan edukasi mengenai makna atribut seperti Karai agar generasi milenial tidak merasa malu dengan akar budayanya.

"Jangan sampai kita malu pakai baju adat. Ini adalah bagian dari Kesatuan Republik Indonesia. Justru lewat tradisi ini, kita belajar untuk memanusiakan manusia dan memiliki tanggung jawab atas perkataan maupun sikap kita," ucap Charles.

Ia berharap melalui pendekatan yang lebih modern, nilai-nilai Kabasaran dapat terus beradaptasi tanpa kehilangan esensi spiritualnya, sehingga ksatria-ksatria muda tetap bisa "berburu" prestasi di tengah rimba perkotaan dengan karakter yang kuat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....