Digitalisasi Museum di Sulut: Menjaga "Roh" Sejarah di Balik Layar Gawai
- 27 Mar 2026 15:41 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Menghadapi gempuran teknologi, museum di Sulawesi Utara dituntut bertransformasi menjadi ruang kreatif yang interaktif. Budayawan Roy Kumaat menegaskan bahwa di era digital, museum tidak boleh lagi kaku dan hanya mengandalkan kunjungan fisik. Hal ini disampaikan dalam program Magota Bacirita, Kamis, 26 Maret 2026.
Menurut Roy, transformasi ke platform digital seperti YouTube, TikTok, dan Instagram sangat penting untuk menjangkau generasi muda yang kini menyukai hal-hal instan. Dengan digitalisasi, koleksi sejarah seperti profil pahlawan Sam Ratulangi atau artefak Waruga bisa diakses lebih luas. Namun, ia memberikan catatan kritis mengenai pengalaman batin pengunjung yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh layar.
"Secara digital kita dimudahkan, tapi 'roh' atau aura dari benda sejarah itu akan berbeda jika dilihat langsung. Kontak mata dan rasa saat melihat fisik aslinya menciptakan keterikatan yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi," ujar Roy.
Tantangan terbesar saat ini bukan sekadar alat, melainkan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam mengelola data. Roy menyoroti risiko keamanan digital, di mana narasi sejarah bisa saja berubah jika terkena virus atau peretasan.
"Transformasi dari konvensional ke digital itu bagus, namun dalam tanda kutip informasilah. Kalau kurang lengkap, datanglah ke museum secara fisik agar lebih berhubungan langsung,"katanya menambahkan.
Minimnya promosi juga menjadi sorotan, terutama di wilayah kepulauan seperti Tahuna dan Talaud yang merasa belum mendapatkan akses informasi memadai mengenai keberadaan museum digital. Roy mendorong pengelola untuk lebih gencar "menjemput bola" melalui situs web resmi. Baginya, teknologi harus menjadi pintu masuk yang memancing rasa penasaran orang agar akhirnya mau berkunjung secara fisik ke museum.
Bagi warga yang ingin melihat langsung perkembangan museum saat ini, Roy merekomendasikan Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara di Jalan W.R. Supratman, Manado, yang kini tampil lebih cantik setelah direnovasi. Ia berharap kemajuan teknologi tetap berpijak pada filosofi Sitou Timou Tumou Tou, yakni menggunakan ilmu pengetahuan untuk memanusiakan manusia tanpa meninggalkan akar budaya asli.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....