Mengenal Perbedaan Salak Pangu dan Salak Tagulandang

  • 03 Sep 2024 08:25 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Indonesia dikenal sebagai negara dengan beragam jenis buah tropis yang unik dan lezat. Di antara banyaknya varietas buah salak, salak Pangu dan salak Tagulandang menjadi dua jenis yang cukup terkenal, terutama di wilayah Sulawesi Utara.

Berikut informasi mengenai asal usul, serta perbedaan salak pangu dan salak tagulandang yang di himpun dari beberapa sumber, meskipun keduanya adalah jenis salak, mereka memiliki perbedaan yang mencolok, baik dari segi rasa, tekstur, maupun asal-usulnya.


Asal-Usul dan Persebaran

Salak Pangu berasal dari Desa Pangu di Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Desa ini dikenal sebagai penghasil salak dengan kualitas terbaik di wilayah tersebut. Sementara itu, salak Tagulandang berasal dari Pulau Tagulandang, yang merupakan bagian dari Kepulauan Sitaro (Siau, Tagulandang, dan Biaro), juga di Sulawesi Utara. Kedua jenis salak ini telah menjadi ikon lokal di daerah asalnya masing-masing dan sering dijadikan oleh-oleh khas bagi wisatawan.


Ciri Fisik dan Tekstur

Dikutip dari Dinas Pertanian Sulawesi Utara, salak Pangu biasanya memiliki ukuran buah yang lebih kecil dibandingkan dengan salak Tagulandang. Kulitnya cenderung lebih tipis dengan warna cokelat kemerahan, sementara salak Tagulandang memiliki kulit yang lebih tebal dan warna yang lebih gelap. Dari segi tekstur, daging buah salak Pangu dikenal lebih lembut dan berair, sedangkan salak Tagulandang memiliki daging yang lebih renyah dan padat.


Rasa dan Aroma

Salah satu perbedaan utama antara kedua jenis salak ini adalah rasa dan aromanya. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika mencatat bahwa salak Pangu memiliki rasa yang lebih manis dengan sedikit sentuhan asam, membuatnya menjadi pilihan favorit bagi mereka yang menyukai buah dengan rasa segar. Di sisi lain, salak Tagulandang menawarkan rasa yang lebih kompleks, dengan perpaduan antara manis dan sedikit pahit, serta aroma yang lebih kuat dan khas.


Potensi Ekonomi dan Pemasaran

Baik salak Pangu maupun salak Tagulandang memiliki potensi ekonomi yang signifikan. Dinas Perdagangan Sulawesi Utara melaporkan bahwa kedua jenis salak ini sering dijual di pasar lokal dan juga diekspor ke daerah lain di Indonesia. Salak Pangu, dengan teksturnya yang lembut, lebih diminati di kalangan konsumen yang mencari buah untuk langsung dikonsumsi, sementara salak Tagulandang, karena dagingnya yang padat, sering digunakan dalam pembuatan manisan dan produk olahan lainnya.


Budidaya dan Tantangan

Dalam hal budidaya, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mengungkapkan bahwa salak Pangu lebih mudah untuk dibudidayakan di dataran tinggi dengan iklim yang lebih sejuk, sedangkan salak Tagulandang lebih cocok di dataran rendah dengan iklim yang lebih hangat dan lembap. Namun, kedua jenis salak ini menghadapi tantangan yang sama, yaitu ancaman dari hama dan penyakit tanaman yang dapat mengurangi hasil panen.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....