Mengenal Kassian Cephas: Pelopor Fotografi di Indonesia

  • 15 Jul 2024 10:42 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado : Siapa yang tidak mengenal profesi fotografer, yang populer untuk mengabadikan momen bahagia dan peristiwa penting ? Namun, tahukah Anda siapa fotografer pertama di Indonesia?

Menurut Wikipedia.org, fotografer pertama di Indonesia adalah Kassian Cephas. Mari kita kenali lebih jauh sosok Kassian Cephas!

Kassian Cephas dikenal sebagai fotografer profesional pertama dari Indonesia yang magang di bawah bimbingan Hamengkubuwana VI (bertakhta 1855–1877). Memulai karirnya sebagai fotografer potret keluarga keraton pada awal 1871, Cephas tidak hanya mengabadikan momen-momen bersejarah tetapi juga berperan dalam melestarikan budaya Jawa.

Kassian Cephas dilahirkan di Yogyakarta dari pasangan Kartodrono dan Minah. Pada masa mudanya, ia menuntut ilmu di bawah bimbingan misionaris Protestan Christina Petronella Philips-Steven, dan setelah dibaptis di Bagelen pada tahun 1860, ia mengadopsi nama Cephas sebagai nama keluarganya. Magangnya di bawah Simon Willem Camerik, fotografer keraton, mengukuhkan keahliannya dalam seni fotografi, dengan studio fotonya berlokasi di Lodji Ketjil Wetan, sekarang Jalan Mayor Suryotomo, tempat ia juga tinggal dengan keluarganya.

Keanggotaannya di KITLV dan penerimaan medali emas dari Orde van Oranje-Nassau menegaskan penghargaan atas kontribusinya dalam bidang fotografi dan pelestarian budaya. Bersama istrinya, Dina Rakijah, mereka membesarkan empat anak, dengan putra pertama mereka, Sem Cephas, melanjutkan tradisi fotografi keluarga setelahnya hingga tahun 1918.

Karir :

Pada tahun 1888, karya-karya Kassian Cephas dipamerkan dalam buku "In den Kedaton te Jogjåkartå" oleh Isaäc Groneman, menampilkan 16 cetakan collotype tarian Hindu Jawa. Groneman bertujuan untuk memperkenalkan budaya Jawa kepada Belanda dan meminta izin dari Hamengkubuwana VII kepada Cephas untuk memotret adegan tarian. Teknologi fotografi terus berkembang, memungkinkan Cephas menggunakan kamera baru tahun 1886 yang memiliki kecepatan pemotretan tinggi.

Setelah proyek Karmawibhangga Borobudur, Cephas diakui oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen sebagai "fotografer dan praktisi arkeologi Hindia". Dia kemudian dicalonkan sebagai anggota KITLV atas karyanya dengan Archaeologische Vereeniging pada Juni 1896. Pada tahun berikutnya, Cephas memotret kunjungan Raja Thailand Chulalongkorn ke Yogyakarta, yang menghadiahinya kotak berisi tiga kancing batu permata sebagai ungkapan terima kasih.

Cephas pensiun dari fotografi pada usia sekitar 60 tahun. Setelah istrinya meninggal pada September 1911, ia juga wafat karena sakit pada usia 67 tahun. Perusahaan fotografi keluarganya tutup setelah Sem Cephas, putranya, meninggal karena kecelakaan berkuda pada Maret 1918. Mereka semua dimakamkan di Yogyakarta, antara Pasar Beringharjo dan Lodji Ketjil. Meskipun ditetapkan sebagai fotografer kraton, Cephas adalah yang pertama menjadi fotografer profesional di kalangan orang Jawa dan pribumi.

(Lidya E Renyaan)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....