Masa Lalu ternyata Membentuk Siapa Kita
- 14 Sep 2026 15:28 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Mengenal diri sendiri tidak selalu harus dimulai dengan menyusun rencana masa depan. Terkadang, pemahaman tersebut justru muncul ketika seseorang bersedia meninjau kembali pengalaman, keputusan, dan perasaan yang pernah membentuk kehidupannya.
Dalam kajian “Emotion and Autobiographical Memory” yang dimuat dalam Emotion, dijelaskan bahwa kenangan tentang kehidupan pribadi mempunyai kaitan kuat dengan emosi dan pembentukan identitas. Ingatan tidak hanya menyimpan catatan mengenai kejadian yang telah berlalu, tetapi juga mencakup perasaan, penilaian, serta makna yang diberikan seseorang terhadap pengalaman tersebut. Peristiwa yang membahagiakan dapat menghadirkan rasa syukur, sementara pengalaman menyakitkan bisa meninggalkan kesedihan, penyesalan, atau sikap lebih berhati-hati. Seiring berjalannya waktu, pemaknaan terhadap suatu kenangan juga dapat berubah. Kegagalan yang dahulu dianggap sebagai bukti ketidakmampuan, misalnya, dapat dipandang sebagai proses yang membentuk kekuatan dan ketahanan diri. Dengan menafsirkan kembali pengalaman masa lalu, seseorang berkesempatan memahami perjalanan hidupnya secara lebih menyeluruh.
Tulisan ilmiah “When the “I” Looks at the “Me”: Autobiographical Memory, Visual Perspective, and the Self” dalam Consciousness and Cognition menguraikan bahwa seseorang dapat mengingat pengalaman dari sudut pandang orang pertama atau orang ketiga. Sudut pandang orang pertama membuat seseorang seolah kembali berada di dalam peristiwa dan melihatnya melalui mata sendiri. Sementara itu, sudut pandang orang ketiga memungkinkan seseorang mengamati dirinya dari luar, seperti melihat pengalaman orang lain. Perbedaan perspektif tersebut dapat memengaruhi perasaan dan cara seseorang menilai dirinya. Mengamati pengalaman dari jarak tertentu terkadang membantu seseorang mengurangi intensitas emosi, sehingga peristiwa yang pernah terjadi dapat dipahami dengan lebih tenang dan objektif.
Penelitian berjudul “Supporting the self-concept with memory: insight from amnesia” menunjukkan bahwa ingatan pribadi memiliki fungsi penting dalam mempertahankan pemahaman seseorang mengenai identitas dirinya. Pengetahuan tentang pengalaman, peran, karakter, dan berbagai fakta dalam kehidupan dapat membantu seseorang menjawab pertanyaan tentang siapa dirinya. Bahkan ketika ingatan terhadap suatu kejadian tidak lagi lengkap, pemahaman mengenai kehidupan pribadi masih dapat menjadi dasar untuk menjaga keberlanjutan konsep diri.
Menelusuri kembali pengalaman hidup bukan berarti seseorang harus terus terikat pada masa lalu. Proses tersebut dapat menjadi langkah untuk memahami asal-usul diri, menerima perubahan, dan melihat pertumbuhan pribadi secara lebih sadar. Seseorang tetap bisa berkembang tanpa perlu menghapus, menolak, atau mengingkari pengalaman yang pernah dilewatinya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....