Mengapa Kebaikan Sering Dianggap Biasa
- 30 Agt 2026 14:48 WIB
- Manado
RRI.CO.ID, Manado - Kebaikan yang datang berulang kali terkadang justru membuat seseorang lupa bahwa ada usaha di baliknya. Bantuan, perhatian, atau pengorbanan yang awalnya terasa begitu berarti dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Kondisi ketika seseorang mulai melihat kebaikan orang lain sebagai hal yang sudah sewajarnya diterima sering disebut taken for granted.
Semakin sering seseorang mendapatkan bantuan, semakin besar kemungkinan ia terbiasa dengan kehadiran bantuan tersebut. Perhatian yang dahulu terasa spesial perlahan dapat berubah menjadi rutinitas. Akibatnya, fokus seseorang lebih tertuju pada manfaat yang diterima daripada proses dan pengorbanan yang dilakukan oleh orang yang membantu. Pada tahap tertentu, ucapan terima kasih pun tidak lagi muncul secara spontan.
Menurut Jurnal “Universals and Cultural Diversity in the Expression of Gratitude” yang diterbitkan dalam Royal Society Open Science, menerima bantuan tidak selalu diikuti dengan ungkapan terima kasih secara langsung. Penelitian yang mengamati lebih dari seribu kejadian dalam kehidupan sehari-hari dari berbagai kelompok masyarakat menemukan bahwa ucapan terima kasih secara lisan ternyata tidak sesering yang mungkin dibayangkan. Para peneliti menjelaskan bahwa hubungan sosial tidak hanya dibangun melalui ungkapan rasa syukur, tetapi juga melalui kerja sama, pemahaman mengenai kewajiban, serta kebiasaan untuk saling membantu. Karena itu, seseorang yang tidak mengucapkan terima kasih belum tentu tidak menghargai bantuan yang diberikan kepadanya.
Menurut Jurnal “Gratitude Intervention Evokes Indebtedness: Moderated by Perceived Social Distance” yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology, bantuan yang diterima dapat menimbulkan dua respons sekaligus, yaitu rasa syukur dan perasaan memiliki utang kepada orang lain. Penelitian terhadap 275 remaja menunjukkan bahwa ketika mereka diajak memikirkan rasa syukur kepada orang yang dianggap penting, kedua perasaan tersebut dapat muncul secara bersamaan. Kedekatan hubungan turut memengaruhi respons tersebut. Semakin dekat hubungan seseorang dengan pemberi bantuan, semakin besar kemungkinan ia melihat kesempatan untuk membalas kebaikan di waktu lain sehingga tidak selalu merasa harus segera membalasnya.
Pada akhirnya, taken for granted tidak selalu muncul karena seseorang sengaja mengabaikan kebaikan orang lain. Kebiasaan menerima bantuan secara terus-menerus dapat membuat sesuatu yang dahulu dianggap istimewa perlahan terasa normal. Perhatian pun dapat bergeser dari melihat usaha orang yang membantu menjadi sekadar menikmati manfaat yang diberikan. Karena itulah, kebaikan yang terlalu sering hadir terkadang justru menjadi kebaikan yang paling mudah dilupakan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....