Alasan Februari Menjadi Bulan Terpendek

  • 21 Agt 2026 19:41 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado - Februari memiliki keunikan yang tidak dimiliki bulan-bulan lainnya. Jumlah harinya dapat berubah, yakni 28 hari pada tahun biasa dan menjadi 29 hari ketika berlangsung tahun kabisat.

Kondisi tersebut tidak muncul begitu saja. Sejarahnya dapat ditelusuri hingga sistem penanggalan Romawi kuno yang memiliki susunan berbeda dari kalender saat ini. Pada masa tersebut, Februari pernah berada di urutan paling akhir dalam satu tahun, sedangkan Maret menjadi bulan pertama. Ketika diperlukan penyesuaian antara kalender dan peredaran Matahari, penambahan waktu dilakukan menjelang akhir tahun. Karena posisinya berada di penghujung tahun, Februari kemudian menjadi bulan yang digunakan untuk menampung tambahan hari tersebut.

Menurut penelitian “The Evolution of the Roman Calendar” dalam Past Imperfect, kalender Romawi pada awalnya berupaya menggabungkan perhitungan berdasarkan pergerakan Bulan dan siklus tahunan Matahari. Perhitungan tersebut belum sepenuhnya akurat sehingga kalender perlahan mengalami ketidaksesuaian dengan musim. Kondisi itu mendorong Julius Caesar melakukan pembaruan kalender pada 45 sebelum Masehi. Melalui kalender Julian, satu tahun ditetapkan memiliki 365 hari dengan tambahan satu hari setiap empat tahun. Februari tetap menjadi bulan dengan jumlah hari paling sedikit karena susunan tersebut mempertahankan kebiasaan lama dalam kalender Romawi, termasuk tradisi penempatan hari tambahan dan sejumlah kegiatan keagamaan.

Penelitian “The Problem of Calendar Reform” yang dimuat dalam Arabian Journal for Science and Engineering menjelaskan bahwa panjang satu tahun Matahari sebenarnya tidak persis 365 hari. Terdapat kelebihan waktu yang jika dibiarkan akan membuat kalender semakin bergeser dari siklus musim. Karena itu, kalender Julian menetapkan adanya tahun kabisat dengan tambahan satu hari setiap empat tahun. Hari tambahan tersebut ditempatkan pada Februari sehingga jumlah harinya menjadi 29. Sistem ini kemudian diperbaiki melalui kalender Gregorian dengan aturan yang lebih teliti mengenai tahun kabisat. Tahun yang habis dibagi 100 tidak dihitung sebagai tahun kabisat, kecuali tahun tersebut juga habis dibagi 400.

Penelitian “The Roman Calendar and the Regifugium” dalam Classical Philology juga menunjukkan bahwa kebiasaan menempatkan tambahan hari pada Februari sudah dikenal jauh sebelum reformasi Julius Caesar. Pada saat itu, Februari merupakan bulan terakhir dalam kalender Romawi sehingga posisinya dianggap paling sesuai untuk menerima penyesuaian terhadap panjang tahun.

Jadi, jumlah hari Februari yang lebih sedikit bukanlah sebuah kebetulan. Kondisi tersebut merupakan hasil dari perjalanan panjang sejarah penanggalan, mulai dari kalender Romawi kuno hingga berbagai pembaruan yang dilakukan untuk menjaga agar sistem kalender tetap selaras dengan peredaran Bumi mengelilingi Matahari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....